Pengrajin Tenun Ikat Desa Obaki TTS Pertahankan Motif Loka, Disebut Simbol Harga Diri

Penulis: Aditya Nugraha  •  Kamis, 17 September 2026 | 13:01:01 WIB

SOE — Benang dan pewarna alam diolah tangan-tangan ibu pengrajin di Desa Obaki menjadi lembaran kain tenun ikat bermotif khas. Dari sebuah desa di ujung bagian tengah wilayah selatan Kabupaten TTS, kerajinan ini bertahan sebagai warisan turun-temurun yang tak sekadar menghasilkan rupiah.

Salah satu motif yang terus dijaga adalah motif Loka. Para pengrajin menyebutnya sebagai motif asli Desa Obaki, bagian dari identitas yang mereka wariskan lintas generasi.

Motif Loka dan Identitas yang Diwariskan

Desa Obaki, Kecamatan Kokbaun, menjadi salah satu wilayah di TTS yang masih mempertahankan kerajinan tenun ikat secara turun-temurun. Di tangan kelompok ibu-ibu pengrajin, benang dan pewarna alam diolah menjadi kain dengan motif yang menyimpan nilai budaya masyarakat setempat.

Bagi para pengrajin, motif Loka bukan sekadar pola di atas kain. Motif itu disebut sebagai simbol harga diri yang melekat pada kerja tangan mereka.

Sosialisasi Hukum hingga Pelatihan Pewarnaan Alam

Kisah para pengrajin itu mengemuka dalam kegiatan Intervensi Desa Perangkat Daerah yang digelar di Kantor Desa Obaki, Kecamatan Kokbaun, Kabupaten TTS, Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut memuat sejumlah agenda yang menyentuh langsung kebutuhan warga desa.

Agenda pertama adalah Sosialisasi Peraturan Daerah tentang Bantuan Hukum Nomor 1 Tahun 2025. Warga mendapat penjelasan mengenai hak mereka dalam mengakses bantuan hukum sesuai aturan daerah yang berlaku.

Agenda berikutnya, Sosialisasi Prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) bagi masyarakat. Materi ini menyasar pemahaman warga soal prinsip-prinsip dasar HAM dalam kehidupan sehari-hari.

Khusus bagi para pengrajin, digelar Pelatihan Pewarnaan dan Standardisasi Warna Alam Tenun Ikat. Pelatihan ini menyentuh persoalan teknis yang selama ini dihadapi perajin kain tradisional, mulai dari konsistensi warna hingga standar mutu produk.

Kegiatan ditutup dengan Lomba Hiburan Rakyat dan Fashion Show. Ajang itu menjadi ruang bagi warga untuk menampilkan hasil tenun ikat mereka di depan publik desa.

Mengapa Standardisasi Warna Alam Penting bagi Pengrajin

Pewarnaan alami menjadi salah satu titik krusial dalam produksi tenun ikat. Warna yang dihasilkan dari bahan alam kerap tidak seragam antarlembar kain, sehingga menyulitkan pengrajin memenuhi permintaan pasar yang menuntut konsistensi.

Pelatihan standardisasi warna alam menyasar persoalan itu. Pengrajin mendapat pembekalan agar hasil pewarnaan lebih terukur, tanpa meninggalkan bahan alami yang menjadi ciri khas produk mereka.

Bagi Desa Obaki, kemampuan menjaga mutu sekaligus mempertahankan motif Loka menjadi dua hal yang berjalan seiring. Motif menjaga identitas, sementara standardisasi menjaga daya saing kain di pasar.

Tenun Ikat sebagai Napas Ekonomi Warga Desa

Kerajinan tenun ikat telah lama menjadi salah satu sumber penghidupan warga Desa Obaki. Kelompok ibu-ibu pengrajin mengerjakannya secara bersama, dari memintal benang hingga menyelesaikan lembaran kain.

Nilai ekonomi kain tenun ikat bertumpu pada keunikan motif dan proses pewarnaan alami. Dua hal itu pula yang membuat produk Desa Obaki berbeda dari kain tenun daerah lain di Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan Intervensi Desa Perangkat Daerah di Kantor Desa Obaki mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni penguatan pemahaman hukum dan HAM warga, serta peningkatan kapasitas pengrajin tenun ikat. Bagi para pengrajin, motif Loka tetap menjadi alasan utama mereka bertahan di jalur kerajinan ini.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: flobamora-news.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top