TAMBOLAKA — Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) menggandeng Solar Chapter dan Wahana Visi Indonesia (WVI) untuk memperkuat kapasitas pengelolaan air di Sumba Barat Daya. Pelatihan bertajuk Solar Champions: Water Committee ini diikuti warga berusia 20 hingga 60 tahun yang disiapkan menjadi penggerak sistem air bersih di desanya masing-masing.
Program ini dihadirkan karena banyak infrastruktur air yang terbangun justru berhenti berfungsi setelah beberapa waktu. Berdasarkan data Solar Chapter melalui Mengalir.co, sekitar 170 desa tercatat memiliki sistem air yang tidak beroperasi.
Head of Program Solar Chapter, Sonya Teresa Debora, mengungkapkan bahwa dari 170 desa tersebut, sekitar 73 persen lembaga pengelolanya sudah tidak aktif. Kondisi ini menjadi alasan utama mengapa pelatihan difokuskan pada penguatan kelembagaan, bukan sekadar pembangunan fisik.
"Dari desa-desa itu, kita telisik lebih jauh dan ketahui bahwa 73 persen lembaganya berhenti beroperasi. Maka dari itu, kita bisa belajar bahwa komite air dan perannya menjadi sentral dalam keberlanjutan sistem air," kata Sonya.
Selama tiga hari, peserta dibekali keterampilan teknis dan non-teknis. Materi yang diberikan mencakup perlindungan sumber mata air, pengoperasian pompa air tenaga surya, pemeliharaan sistem, hingga tata kelola air. Peserta juga mendapat pembekalan tentang kepemimpinan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
Direktur Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal Kemendesa PDT, Teguh Hadi Sulistiono, menegaskan bahwa infrastruktur saja tidak cukup tanpa komitmen warga untuk merawatnya.
"Air itu berkat Tuhan, tetapi air harus kita jaga. Dan ini bergantung pada kuatnya komite air, keberfungsian sistem yang ada, serta bagaimana kita bisa meningkatkan pemanfaatan air," ujarnya.
Pada hari terakhir, peserta menjalani evaluasi pemahaman dan menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Mereka juga menandatangani Dokumen Komitmen Bersama bersama Kemendesa PDT, Pemkab Sumba Barat Daya, Solar Chapter, WVI, serta perwakilan kepala desa.
Koordinator Program Wahana Visi Indonesia, Yohannes Tanaboleng, mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur fisik saja tidak menjamin keberlangsungan layanan air bersih. Sistem air membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat yang menjadi pengelola langsung di tingkat desa.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumba Barat Daya, Benyamin Kabba. Ia meminta seluruh elemen menjaga fasilitas air bersih yang telah dibangun agar manfaatnya bisa dirasakan hingga generasi mendatang.
"Air bersih adalah kebutuhan kita semua, sehingga kita harus jaga. Sarana air bersih yang sudah terbangun, baik oleh pemerintah maupun oleh teman-teman WVI dan Solar Chapter, baiknya kita jaga dengan sungguh-sungguh agar panjang manfaatnya untuk anak cucu kita," ujar Benyamin.
Melalui penguatan kapasitas ini, pemerintah berharap lahir lembaga pengelola air desa yang terampil dan mandiri. Akses air bersih pun tidak hanya tersedia saat proyek selesai, tetapi mampu bertahan dan berkembang memenuhi kebutuhan warga Sumba Barat Daya dalam jangka panjang.