KUPANG — Warga Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, tak lagi memandang sampah dapur sebagai barang sia-sia. Melalui pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga yang digelar Prodi Teknik Mesin Universitas Nusa Cendana (Undana), mereka kini mampu menyulap kulit buah dan sisa sayuran menjadi eko enzim serta pupuk kompos yang ramah lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung di Kapela St. Agustinus Bello ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Tim PKM Undana yang diketuai Adi Yermia Tobe menghadirkan tiga metode pengolahan: pembuatan eko enzim, enzim buah, dan kompos menggunakan komposter.
Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan dengan formula sederhana pembuatan eko enzim. Takaran yang diajarkan adalah satu bagian molase atau gula merah, tiga bagian sampah organik segar, dan sepuluh bagian air. Kulit buah dan sisa sayuran dipotong kecil sebelum difermentasi selama sekitar tiga bulan.
Berbeda dengan eko enzim, enzim buah memanfaatkan bagian buah dan madu asli dengan perbandingan sama. Proses fermentasinya lebih lama, mencapai 12 bulan, namun hasilnya bisa dikonsumsi sebagai minuman kesehatan.
Adi Yermia Tobe menjelaskan, sampah organik rumah tangga selama ini kerap berakhir menumpuk di tempat pembuangan akhir. Padahal, dengan pengolahan sederhana dan biaya murah, limbah tersebut bisa memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
"Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan, bisa dilanjutkan dengan pelatihan produk turunan eko enzim, seperti sabun dan produk lainnya," ujar Adi.
Selain cairan fermentasi, peserta juga diajari mengolah sampah organik menjadi pupuk. Dua jenis alat diperkenalkan: komposter drum statis vertikal dan komposter ember tumpuk. Dengan alat ini, sampah organik dapat menjadi pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC) dalam waktu sekitar 14 hingga 30 hari.
Pelatihan yang diikuti perwakilan 19 KUB ini menghadirkan peserta dari kalangan bapak-bapak, ibu rumah tangga, hingga Orang Muda Katolik (OMK). Setelah sekitar tiga jam pendampingan, mereka berhasil memproduksi satu toples eko enzim berukuran 26 liter dan satu galon enzim buah berukuran 19 liter.
Sekretaris Dewan Pastoral Stasi (DPS) St. Agustinus Bello, Kaitanus Korbafo, menyampaikan apresiasi atas kerja sama dengan Undana. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong harmoni antara manusia dan lingkungan.
"Saya senang karena mendapat pengetahuan baru tentang bagaimana mengolah sampah rumah tangga. Ternyata sampah yang selama ini dibuang bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat," kata salah satu peserta, Maria Tuan.
Sebagai tindak lanjut, para peserta sepakat membentuk kelompok diskusi melalui grup WhatsApp agar ilmu yang didapat bisa dibagikan ke anggota KUB lain dan diterapkan di rumah masing-masing. Tim PKM Undana dalam kegiatan ini melibatkan lima mahasiswa Teknik Mesin serta sejumlah dosen, termasuk Yeremias M. Pell, Dr. Ir. Matheus M. Dwinanto, Wenseslaus Bunganaen, dan Rifat Yafet Yoktan Maromon.