Wamendiktisaintek Desak Perguruan Tinggi di NTT Bentuk Konsorsium, Targetkan Riset Tepat Guna Entaskan Kemiskinan

Penulis: Endra Sanjaya  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 14:50:31 WIB
Wamendiktisaintek dorong perguruan tinggi di NTT bentuk konsorsium riset tepat guna untuk entaskan kemiskinan.

KUPANG — Prof. Dr. Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak bisa lagi bekerja sendiri dan berkompetisi secara internal di tengah tingginya angka kemiskinan di NTT. Ia secara tegas menyebut kampus harus merasa "berdosa" jika lingkungan sekitarnya masih dilanda kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya angka partisipasi kuliah.

"Paradigma bekerja sendiri dan berkompetisi harus kita ubah menjadi kolaborasi," kata Fauzan di Kupang, Jumat.

Fokus Riset pada Sektor Unggulan Daerah

Menurut Fauzan, konsorsium yang akan dibentuk tidak boleh sekadar seremoni. Ia mendorong agar riset yang dihasilkan bersifat aplikatif dan tepat guna, terutama di tiga sektor utama penopang ekonomi warga NTT: pertanian, peternakan, dan perikanan.

"Konsorsium tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendukung pengentasan kemiskinan," ujarnya.

Skema Pendanaan Baru untuk Riset Kampus

Untuk memperkuat peran ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan mendorong sinkronisasi pendanaan riset. Skema yang ditawarkan adalah co-funding antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di masing-masing perguruan tinggi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Hal ini diharapkan bisa menjadi solusi atas pendanaan riset yang selama ini kerap terhambat. Dengan adanya skema patungan, kampus di NTT bisa lebih leluasa mengembangkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan petani, peternak, dan nelayan.

Undana Siap Jadi Motor Penggerak

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Prof. Jefri S. Bale menyambut positif seruan tersebut. Ia menyatakan pihaknya siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

"Kehadiran Bapak Wamendiktisaintek menjadi energi baru bagi kami untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berdampak nyata bagi masyarakat," kata Prof. Jefri.

Pembentukan konsorsium ini dinilai menjadi langkah strategis mengingat NTT masih bergelut dengan persoalan kemiskinan struktural yang tidak hanya ekonomi, tetapi juga menyangkut budaya, pola pikir, dan kualitas sumber daya manusia. Kampus, menurut Fauzan, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi garda terdepan dalam memutus rantai kemiskinan tersebut.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top