Dokter IGD di RS Leona TTU Depresi Usai Diintimidasi Dua Anggota DPRD Saat Jaga Pasien Gigitan Ular

Penulis: Aditya Nugraha  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:41:31 WIB
Dokter IGD RS Leona TTU mengalami tekanan emosional setelah interaksi dengan anggota DPRD saat menangani pasien gigitan ular.

KUPANG — Seorang tenaga medis di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, harus menjalani perawatan akibat depresi setelah diduga mendapat tekanan dari dua anggota DPRD TTU saat menjalankan tugas. Peristiwa yang terjadi di RS Leona pada Sabtu (13/6/2026) itu bermula dari penanganan pasien anak korban gigitan ular yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu.

Kronologi Tekanan: Dari Protes Keluarga hingga Intimidasi Anggota Dewan

Menurut keterangan paman dr Icha, Victor Manbait, dokter tersebut telah menjalani prosedur medis sesuai standar operasional. Ia berkonsultasi dengan dokter spesialis dan menyimpulkan bahwa pasien belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu yang diminta keluarga.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi medis, pasien belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu yang diminta keluarga," kata Victor kepada Kompas.com, Sabtu (20/6/2026). Selain alasan medis, vaksin yang dimaksud juga tidak tersedia di RS Leona.

Penjelasan itu tidak diterima keluarga pasien. Perdebatan pecah di ruang IGD. Salah satu anggota keluarga kemudian berbicara dengan nada tinggi dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU. Tak lama, seorang pria lain masuk dan ikut memprotes.

"Orang tersebut memperkenalkan diri sebagai Robertus Tubani, anggota DPRD TTU Komisi III yang bermitra dengan Dinas Kesehatan. Saat berbicara, yang bersangkutan disebut menunjuk-nunjuk dokter Icha dengan nada tinggi," ujar Victor.

Dokter Menangis Saat Bertugas, Dilarikan ke Rumah Sakit

Dr Icha berupaya menjelaskan kondisi pasien dan dasar pertimbangan medis, namun ia disebut tidak mendapat kesempatan bicara utuh. Tekanan emosional yang diterimanya membuat ia menangis saat masih bertugas di IGD.

Direktur RS Leona yang datang ke lokasi berusaha menenangkan situasi. Ia menjelaskan bahwa tindakan medis dr Icha telah sesuai SOP dan hasil konsultasi dengan dokter spesialis. Setelah situasi mereda, pasien tetap menjalani observasi di rumah sakit.

Namun, dampak psikologis masih dirasakan dr Icha. Keesokan harinya, Minggu (14/6/2026), saat hendak kembali bertugas, ia melihat dua orang yang terlibat dalam insiden itu masih berada di lingkungan rumah sakit. "Karena masih merasa takut dan tertekan, dokter Icha memilih kembali ke tempat tinggalnya," kata Victor.

Tekanan pada Tenaga Medis: Antara SOP dan Intervensi Eksternal

Insiden ini menyoroti kerentanan tenaga medis di daerah ketika berhadapan dengan intervensi pihak yang memiliki wewenang politik. Padahal, keputusan medis seperti pemberian vaksin antivenom atau antidotum untuk gigitan ular seharusnya murni berdasarkan

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: regional.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top