KUPANG — Dua perguruan tinggi negeri di NTT bergerak untuk memecah kebuntuan akses pendidikan tinggi di wilayah kepulauan. Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Terbuka (UT) Kupang sepakat memperkuat kemitraan strategis yang tidak hanya berhenti pada seremonial, tetapi menyasar langsung peningkatan kapasitas guru, aparatur desa, dan pekerja di daerah 3T.
Rektor Undana, Jefri Bale, menilai sinergi antarlembaga menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, kemandirian pendidikan di NTT tidak akan tercapai jika setiap institusi berjalan sendiri-sendiri.
Kerja sama ini memadukan keunggulan masing-masing institusi. Undana membawa kekuatan pada aspek penelitian, laboratorium, dan sumber daya akademik. Sementara UT Kupang memiliki pengalaman panjang dalam menyelenggarakan pendidikan jarak jauh yang menjangkau pelosok.
Direktur UT Kupang, Ajat Sudrajat, mengatakan kemitraan dengan perguruan tinggi daerah adalah bagian penting dari pengembangan pendidikan inklusif. “Kami ingin terus berkolaborasi dengan Undana dalam mengembangkan kapasitas SDM di NTT,” ujarnya di Kupang, Jumat.
Kedua kampus berkomitmen menyusun program akademik dan pengembangan kapasitas yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah kepulauan serta kebutuhan spesifik masyarakat NTT. Hal ini dinilai penting untuk menjawab tantangan pembangunan yang unik di provinsi berbasis kepulauan ini.
Ajat menambahkan, hubungan kerja sama antara UT dan Undana sebenarnya telah terjalin sejak lama, terutama dalam penyediaan dosen yang bertugas sebagai tutor pada berbagai program studi UT. Perjanjian baru ini diharapkan memperluas cakupan dan dampaknya.
Pemerintah daerah, kata Rektor Undana, mendorong perguruan tinggi untuk menghasilkan inovasi yang mendukung percepatan pembangunan di berbagai sektor. Kolaborasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas akses pendidikan tinggi, terutama bagi masyarakat yang selama ini terhambat oleh jarak dan keterbatasan infrastruktur.
Melalui kolaborasi ini, kedua institusi menargetkan peningkatan kualitas SDM dan indeks pembangunan manusia di NTT. Guru di pulau terluar, aparatur desa di pegunungan, serta pekerja yang tidak bisa meninggalkan tempat tinggal menjadi sasaran utama program ini.