TIMOR TENGAH SELATAN — Distin, seorang siswa di Timor Tengah Selatan, harus berjalan kaki dari rumahnya menuju mata air terdekat setiap pagi. Perjalanan pulang-pergi itu memakan waktu sekitar dua jam. Tak jarang, ia sampai di sekolah dalam keadaan terlambat dan mendapat teguran dari guru.
“Sore-sore pun harus ambil air lagi dengan kakak. Makanya, saya ingin punya keran di rumah supaya kalau perlu ambil air, cukup ambil di rumah saja,” kata Distin dalam keterangan yang diterima dari Wahana Visi Indonesia (WVI), Kamis (18/6/2026).
Distin hanyalah satu dari sekian banyak anak di TTS yang mengalami kesenjangan akses air bersih dan sanitasi. Menurut Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga, hanya 11,9 persen rumah tangga di Indonesia yang menikmati akses air minum aman alias bebas kontaminasi dan layak konsumsi.
Tantangan ini makin berat karena wilayah TTS memiliki musim kemarau panjang hingga 7–8 bulan setiap tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut struktur tanah berbatu karst di sana menyulitkan penyimpanan air.
Keterbatasan air bersih tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data BPS 2025 mencatat tingkat kemiskinan di TTS mencapai 24,5 persen—artinya, sekitar satu dari empat orang terdampak keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasuk air bersih dan sanitasi layak.
Kondisi ini turut berkontribusi pada tingginya angka stunting yang mencapai 56,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024, keterbatasan air bersih meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare, yang menghambat penyerapan nutrisi dan memperburuk kondisi gizi anak.
Wahana Visi Indonesia (WVI) menghadirkan kampanye Water for Timor (WFT) yang dimulai sejak Maret 2026. Kampanye ini menjadi bagian dari komitmen WVI mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), khususnya penyediaan dan pengelolaan berkelanjutan untuk air bersih dan sanitasi bagi semua.
National Director WVI, Angelina Theodora, menyampaikan bahwa akses air bersih adalah hak setiap anak untuk hidup sehat dan layak. Ia berharap kampanye WFT mampu mendekatkan akses air bersih dan sanitasi kepada 2.000 lebih penerima manfaat di lima desa dan tiga sekolah sasaran.
“Saat ini kami akan mengerjakannya secara bertahap, mulai dari proses asesmen pasokan air, pembangunan fasilitas, hingga peningkatan kapasitas masyarakat untuk mengelola jaringan air,” kata Angelina.
Angelina menegaskan bahwa hadirnya akses air bersih yang layak turut mendorong kesetaraan gender. Perempuan tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengambil air dan memiliki lebih banyak waktu untuk bermain, mengembangkan diri, dan beristirahat.
Donasi yang terkumpul dari kampanye WFT akan digunakan sebagai dana pembangunan sistem jaringan air bersih yang menjangkau rumah tangga dan sekolah, edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengelolaan sanitasi yang berkelanjutan. Dengan akses air yang lebih dekat dan aman, anak-anak seperti Distin bisa belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa harus memilih antara sekolah dan air bersih.