Tenun Ikat dan Pangan Lokal Jadi Andalan, Perempuan NTT Buktikan Diri Sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:02:01 WIB
Perempuan NTT memamerkan tenun ikat dan produk pangan lokal dalam pameran Weaving Wonders.

JAKARTA — Peran perempuan NTT dalam pembangunan ekonomi tak lagi sekadar pelengkap. Lewat gelaran pameran Weaving Wonders, produk-produk seperti kain tenun ikat, olahan pangan lokal, hingga hasil usaha komunitas menjadi bukti konkret bahwa mereka adalah pilar utama. Acara yang berlangsung pada Sabtu (13/6/2026) ini menyoroti bagaimana kreativitas dan kearifan lokal mampu bersaing di panggung nasional.

Dari Dapur hingga Galeri: Ragam Produk yang Diandalkan

Pameran ini tidak hanya memajang kain tenun dengan motif khas NTT yang sarat filosofi. Lebih dari itu, stan-stan yang ada juga dipenuhi aneka produk pangan lokal yang diolah secara modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisional. Mulai dari aneka camilan berbasis jagung, kacang-kacangan, hingga minuman fermentasi khas NTT, semuanya hadir sebagai representasi kekayaan sumber daya alam yang dikelola langsung oleh tangan-tangan perempuan.

Menggerakkan Ekonomi dari Akar Rumput

Kehadiran pameran ini menjadi pengakuan bahwa kekuatan ekonomi NTT tidak selalu datang dari proyek besar atau investasi asing. Justru, dari kampung-kampung, para perempuan membangun usahanya secara mandiri. Mereka tidak hanya menjadi penenun atau pengolah pangan, tetapi juga manajer, pemasar, dan pemimpin komunitas yang menghidupi puluhan keluarga di sekitarnya.

Tenun Ikat: Warisan Leluhur yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Salah satu primadona dalam pameran ini adalah tenun ikat. Proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu berbulan-bulan membuat setiap helai kain memiliki nilai jual yang tinggi. Para perajin perempuan dari berbagai daerah di NTT seperti Sumba, Flores, dan Timor, membuktikan bahwa melestarikan budaya juga berarti menggerakkan ekonomi. Setiap lembar kain yang terjual adalah pendapatan yang langsung kembali ke tangan perajin dan keluarganya.

Pangan Lokal: Potensi Besar yang Belum Tergarap Maksimal

Selain tenun, sektor pangan lokal juga menjadi sorotan. Olahan jagung, sorgum, dan umbi-umbian yang selama ini menjadi makanan pokok masyarakat NTT, kini dikemas lebih menarik. Produk-produk ini tidak hanya menjadi alternatif pangan sehat, tetapi juga membuka peluang pasar baru. Para perempuan pelaku UMKM di bidang ini menunjukkan bahwa pangan lokal bisa naik kelas dan bersaing dengan produk industri besar.

Kegiatan seperti Weaving Wonders membuka mata publik bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan di daerah bukanlah proyek jangka pendek. Ini adalah gerakan berkelanjutan yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perbankan, hingga pasar. Para perempuan NTT telah membuktikan diri mereka siap menjadi lokomotif ekonomi yang tangguh.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top