Bupati Sikka Ajak Generasi Muda Lestarikan Tenun Ikat, 52 Motif Kini Dilindungi Hak Kekayaan Intelektual

Penulis: Aditya Nugraha  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 21:24:02 WIB
Bupati Sikka membuka Workshop Kain Tenun Nusa Tenggara Timur di Desa Nita untuk melestarikan tenun ikat.

MAUMERE — Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan tenun ikat sebagai bagian dari jati diri. Ajakan itu ia sampaikan saat membuka Workshop Kain Tenun Nusa Tenggara Timur di sanggar tenun ikat Lepo Lorun, Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, pada Rabu (10/6/2026).

“Jangan sampai warisan budaya yang begitu berharga ini perlahan hilang karena kurangnya regenerasi,” kata Juventus.

Ia menegaskan, di tangan generasi mudalah tenun ikat Sikka dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai dan identitas budayanya. Pemerintah Kabupaten Sikka, kata dia, berkomitmen mendukung program pelestarian budaya, penguatan kapasitas penenun, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

52 Motif Tenun Ikat Telantarbuka Perlindungan HKI

Dalam kesempatan tersebut, Juventus mengungkapkan bahwa Kabupaten Sikka dikenal luas sebagai daerah dengan kekayaan tenun ikat yang bermotif dan bercorak beragam. Tercatat sebanyak 52 motif tenun ikat telah dilindungi Hak Kekayaan Intelektual menyusul dibentuknya Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

“Keunikan ragam hias dan corak tenun ini merupakan kekuatan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan,” katanya.

Workshop Jadi Ruang Belajar dan Pemberdayaan

Juventus menyambut baik penyelenggaraan workshop ini sebagai langkah nyata melestarikan warisan Nusantara. Ia menyampaikan apresiasi kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Provinsi NTT beserta jajarannya serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka.

Menurut Juventus, kegiatan tenun ikat penting dipelajari oleh semua kalangan karena memiliki arti penting bagi nilai historis, makna, dan estetikanya. Ia mengharapkan workshop ini memiliki makna strategis, bukan sekadar ruang belajar dan berbagi keterampilan, melainkan juga sebagai upaya pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.

“Saya berharap melalui workshop ini, para peserta dapat memperdalam pengetahuan mengenai teknik menenun, pengembangan motif, pewarnaan alami, inovasi desain, hingga strategi pemasaran yang mampu meningkatkan nilai jual produk tenun ikat Sikka di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional,” pungkas Juventus.

“Kita ingin tenun ikat Sikka tidak hanya dikenal sebagai produk budaya, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuh dia.

Reporter: Aditya Nugraha
Back to top