Hujan Pasir Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki Landa Sembilan Desa di Flores Timur, Warga Khawatir Atap Rumah Kembali Berkarat

Penulis: Endra Sanjaya  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 19:56:01 WIB
Hujan pasir akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki mengguyur sembilan desa di Flores Timur.

LARANTUKA — Sembilan desa di Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, kembali diguyur hujan pasir akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terus berlangsung tanpa jeda. Berdasarkan laporan wartawan di lokasi, hujan pasir di Desa Boru berlangsung selama sepuluh menit pada Rabu (10/6/2026).

Desa-desa yang terdampak meliputi Boru, Boru Kedang, Hokeng Jaya, Nawokote, Klatanlo, Waiula, Pantai Oa, Hewa, dan Ojan Detun. Seluruh wilayah ini berada di arah barat dan barat laut dari gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Atap Rumah Warga Terancam Karat Akibat Abu Vulkanik

Dominikus Selestinus (30), warga Dusun Kampung Baru, Desa Boru, mengaku khawatir material vulkanik akan kembali merusak atap rumahnya. Ia menceritakan, baru pada pertengahan tahun 2025 lalu keluarganya mengganti atap yang rusak parah akibat korosi dari erupsi sebelumnya.

“Ini seng tidak lama rusak lagi, abu gunung itu kerjanya cepat, lambat penanganan maka tidak ada guna, jadi karat semua,” kata Dominikus kepada wartawan.

Menurutnya, kerusakan atap besi terjadi sangat cepat. Seng yang terpapar korosi langsung menjadi rapuh, terutama jika didukung cuaca lembap. “Selain baca-baca, pengalaman kami selama hidup dalam bencana erupsi memang terbukti, seng rusak tidak sampai beberapa bulan,” jelasnya.

Warga Siram Atap Pakai Air, Biaya Rp 75.000 Sekali Siram

Untuk meminimalisir dampak, Dominikus bersama warga lain melakukan penyiraman atap secara rutin. Mereka membeli air seharga Rp 15.000 per drum. Rumah Dominikus yang berukuran sekitar 8×7 meter persegi membutuhkan lima drum atau Rp 75.000 untuk sekali penyiraman.

Dominikus dan keluarganya memilih bertahan di kampung halaman di Dusun Kampung Baru, meski sebagian besar warga dusun itu memilih mengungsi di Huntara (hunian sementara) di Desa Konga, Kecamatan Titehena. Jarak rumahnya dari pusat erupsi Lewotobi Laki-laki sekitar tujuh kilometer.

Empat Kali Erupsi dalam Sehari, Abu Setinggi 1.000 Meter

Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera mencatat aktivitas erupsi terjadi berkali-kali dalam sehari. Sejak Rabu dini hari hingga pukul 10.00 Wita, gunung api tersebut sudah erupsi sebanyak empat kali.

“Pertama pukul 05.23 Wita tinggi abu 1.000 meter, pukul 08.26 Wita dengan tinggi 1.000 meter, pukul 09.10 Wita setinggi 1.000 meter, kemudian pukul 10.41 Wita juga 1.000 meter,” ujar Kepala PGA Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro.

Herman mengamati intensitas abu tebal berwarna kelabu bergerak ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47.3 mm dan durasi kurang lebih 1 menit 17 detik.

PGA Imbau Warga Jauhi Radius 5 Kilometer dari Kawah

Pihak PGA mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Masyarakat juga diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah, dan tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya.

Selain itu, warga di sekitar gunung diingatkan untuk memperhatikan protokol kesehatan guna menghindari paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Reporter: Endra Sanjaya
Back to top