JAKARTA — Lonjakan harga Pertamax hingga lebih dari 30 persen berlaku mulai Selasa (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga mengumumkan harga baru BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter, naik dari posisi sebelumnya Rp12.300 per liter yang bertahan sejak Maret 2026.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menjelaskan bahwa pemerintah sudah berusaha menahan harga selama tiga bulan terakhir. Penahanan dilakukan sejak perang antara AS-Israel melawan Iran menyebabkan harga minyak dunia melonjak.
“Bisa dibayangkan selisih dari yang sekarang saja? Sekarang Rp16.250 dikurangi yang kemarin Rp12.300 per liter. Itu dikalikan sekian juta liter yang sudah pemerintah tanggung. Negara menanggung selisih itu,” ujar Satya di IPB University Bogor, Rabu (11/6/2026).
Meski Pertamax naik, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak ikut terdongkrak. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Satya mengimbau pengguna BBM subsidi untuk merespons kebijakan ini dengan efisiensi.
“Kenaikan ada di mana-mana, tetapi pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi. Maka, kami mengimbau agar ketidaknaikan daripada harga BBM subsidi ini dijawab dengan efisiensi dari masyarakat pengguna,” kata Satya.
Pertamina Patra Niaga merilis daftar harga terbaru yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Selain Pertamax, Pertamax Green 95 (RON 95) juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Satya menegaskan bahwa kenaikan ini merupakan pengembalian BBM nonsubsidi ke nature-nya, yakni mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Pemerintah sebelumnya menahan harga sejak Maret 2026 untuk meredam dampak konflik Timur Tengah terhadap daya beli masyarakat.
“Sekarang ini BBM nonsubsidi dikembalikan kepada nature-nya. Bahwasanya mereka bisa naik harga sesuai dengan fluktuasi harga minyak dunia,” ucap Satya.