ATAMBUA — Kecelakaan tunggal yang melibatkan dump truck bernomor polisi DH 8627 EE terjadi di wilayah perbatasan Kabupaten Belu. Kendaraan tersebut terguling dan masuk ke dalam lubang besar setelah sopir tak sempat menyadari bahwa jembatan di depannya sudah putus.
Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 21.30 Wita. Saat itu, Darius Leki tengah mengemudi dari arah Fatuba'a menuju Atambua. Ia baru mengetahui kondisi jembatan saat kendaraan sudah berada di tepi lubang dan tak bisa lagi mengerem.
Kapolsek Tasifeto Timur Ipda Yusran mengonfirmasi bahwa jembatan tersebut sebenarnya sudah ambruk sejak 17 Oktober 2025 akibat longsor. Dinas PUPR Kabupaten Belu sempat melakukan perbaikan darurat agar kendaraan masih bisa melintas.
Namun, perbaikan itu tak bertahan lama. Pada 20 April 2026, jembatan kembali ambruk setelah diterjang curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut. "Hingga saat ini, kondisi jalan tersebut masih putus," ujar Yusran kepada detikBali, Senin (7/6/2026).
Kondisi ini membuat pengendara yang melintas di malam hari harus ekstra waspada. Minimnya rambu peringatan atau penerangan di lokasi jembatan putus disebut sebagai faktor utama kecelakaan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Darius Leki, sopir truk, hanya mengalami luka lecet di sekujur tubuh. Ia berhasil keluar dari kendaraan dengan bantuan warga sekitar yang mendengar suara benturan keras.
"Truk sudah dievakuasi dan saat itu kejadian tersebut tidak dilaporkan kepada kami," jelas Yusran. Meski begitu, polisi tetap mengimbau warga yang melintas di jalur tersebut untuk berhati-hati, terutama saat malam hari atau cuaca buruk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas PUPR Kabupaten Belu mengenai rencana perbaikan permanen jembatan tersebut. Jembatan putus ini menjadi akses vital yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Tasifeto Timur dengan pusat kota Atambua.
Warga setempat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, baik dengan membangun jembatan darurat yang lebih kokoh maupun mempercepat proses tender pembangunan jembatan baru. Pasalnya, setiap kali hujan deras turun, risiko longsor dan ambruknya infrastruktur di wilayah perbukitan Belu meningkat drastis.