Baterai silikon-karbon menawarkan kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan lithium-ion konvensional. Artinya, pabrikan bisa menyematkan kapasitas besar dalam bodi yang lebih ramping. Teknologi ini perlahan menjadi standar baru di jajaran ponsel premium.
Setidaknya ada lima ponsel Android yang resmi menggunakan baterai silikon-karbon per awal 2025. Kehadirannya menandai pergeseran signifikan dari dominasi lithium-ion yang bertahan lebih dari satu dekade.
Lithium-ion sudah mencapai batas fisik dalam hal miniaturisasi. Untuk menambah kapasitas, pabrikan harus mempertebal bodi — solusi yang tidak populer di era ponsel ramping. Teknologi silikon-karbon memecahkan dilema ini dengan menyimpan lebih banyak energi per gram.
Material silikon anoda memiliki kapasitas teoretis sepuluh kali lipat dari grafit yang digunakan di baterai konvensional. Namun, tantangan ekspansi volume selama pengisian daya membuatnya baru bisa dikomersialkan secara massal dalam dua tahun terakhir.
Pasar Indonesia belum menerima semua model di atas secara resmi. Xiaomi 14 Ultra dan Oppo Find X7 Ultra sudah masuk via distributor resmi, sementara OnePlus 13 masih terbatas di jalur impor. Harga rata-rata ponsel dengan baterai silikon-karbon saat ini berada di kisaran Rp 12 juta hingga Rp 20 juta.
Perbedaan paling terasa adalah ketahanan baterai seharian penuh tanpa perlu mengisi ulang di tengah aktivitas. Pengguna yang sering bepergian atau bekerja di luar ruangan akan diuntungkan paling besar.
Teknologi silikon-karbon diprediksi menjadi standar di flagship 2026. Samsung dan Google dikabarkan tengah menguji coba baterai jenis ini untuk seri Galaxy S26 dan Pixel 11 mendatang. Apple juga dilaporkan menjajaki adopsi serupa untuk iPhone 18 Pro.
Adopsi massal akan menekan biaya produksi secara bertahap. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, baterai silikon-karbon kemungkinan akan merambah ponsel kelas menengah — membawa daya tahan lebih lama ke lebih banyak pengguna.