SOE — Selama setengah dekade, Oktovianus Klein menjalani hari-hari dengan pandangan yang terus meredup. Katarak di mata kanannya membuatnya kesulitan membedakan jalan saat mengendarai sepeda motor. Cahaya lampu kendaraan lain terasa menyilaukan, pandangannya sering berkunang-kunang, dan ia harus terus memaksakan diri demi mencari nafkah sebagai pengemudi ojek.
Penghasilannya tidak menentu. Selain menarik ojek, ia kerap membantu mengantarkan dagangan sayur-mayur ke pasar. Namun, gangguan penglihatan yang parah membuat pekerjaan itu terasa semakin berbahaya setiap harinya.
Oktovianus mengaku sudah menyadari ada yang salah dengan matanya sejak lima tahun lalu. Namun, biaya dan akses ke dokter spesialis mata di Kota Soe yang terbatas membuatnya menunda pengobatan. Faktor lain yang lebih dominan adalah ketakutan yang tidak berdasar.
"Saya dengar operasi katarak itu mencungkil bola mata. Katanya mata saya akan diganti dengan mata kucing," ujar Oktovianus kepada tim medis sebelum operasi, seperti dikutip dari keterangan resmi penyelenggara program. Informasi keliru itu membuatnya enggan mendekati rumah sakit selama bertahun-tahun.
Ketakutan Oktovianus perlahan sirna setelah mendapat penjelasan dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan petugas terkait. Edukasi yang tepat mengenai prosedur operasi katarak yang aman dan modern membuatnya akhirnya bersedia menjalani tindakan medis.
Program operasi katarak gratis ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor. Kementerian Sosial RI menjadi penyelenggara utama, didukung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) sebagai tim medis ahli, Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP), serta Pemerintah Kabupaten Kupang sebagai fasilitator.
Tindakan operasi dipusatkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Kabupaten Kupang. Proses berlangsung secara bertahap selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Mei 2026. Kegiatan ini sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh pada akhir Mei.
Pasca operasi, Oktovianus merasakan perubahan yang signifikan. Meskipun belum pulih total, ia bisa melihat dunia dengan lebih terang tanpa gangguan kabut yang selama ini menghalangi penglihatannya. Ia mengaku pasrah dan menyerahkan prosesnya kepada Yang Maha Kuasa.
Program ini sepenuhnya gratis bagi peserta. Seluruh biaya operasi, termasuk tindakan medis dari dokter spesialis mata, ditanggung oleh Kementerian Sosial dan mitra kolaborasi. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun.
Program ini menyasar warga lanjut usia di NTT yang memiliki keterbatasan akses dan biaya untuk berobat. Oktovianus adalah salah satu dari sekian banyak lansia di daerah terpencil yang selama ini terpaksa hidup dalam kegelapan akibat katarak tanpa penanganan medis yang memadai.
Operasi katarak merupakan prosedur yang aman dan umum dilakukan pada pasien lanjut usia. Dalam program ini, seluruh tindakan ditangani langsung oleh dokter spesialis mata anggota PERDAMI yang berpengalaman, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.