KUPANG — BPS NTT mencatat IPM Kota Kupang mencapai 82,71 poin pada 2024, menjadikannya satu-satunya daerah dengan kategori “sangat tinggi” di provinsi tersebut. Angka ini jauh di atas rata-rata IPM NTT yang berada di kisaran 65 poin.
Di urutan kedua, Kabupaten Ende mencatat IPM 72,89 poin, disusul Kabupaten Sikka dengan 71,06 poin. Ketiga daerah ini konsisten mempertahankan posisi sebagai wilayah dengan akses pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat terbaik di NTT.
Kabupaten Flores Timur dan Kota Kupang sebenarnya sempat bersaing ketat, namun data terbaru menunjukkan Flores Timur berada di posisi keempat dengan IPM 70,55 poin. Posisi kelima ditempati Kabupaten Ngada dengan skor 70,21 poin.
Yang menarik, Kabupaten Manggarai Barat yang dikenal sebagai destinasi wisata super prioritas Labuan Bajo justru tidak masuk dalam lima besar. Daerah ini berada di peringkat kedelapan dengan IPM 68,44 poin, tertinggal dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Data BPS juga mengungkap fakta mencolok: enam kabupaten di NTT masih berada dalam kategori IPM “rendah”, dengan skor di bawah 60 poin. Kabupaten Sabu Raijua menjadi daerah dengan IPM terendah, yakni 51,87 poin, disusul Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
“Angka ini mencerminkan bahwa akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan menengah, fasilitas kesehatan, dan daya beli masyarakat masih sangat timpang antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil,” ujar Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia, dalam rilis yang diterima Senin lalu.
IPM dihitung dari tiga dimensi utama: umur panjang dan hidup sehat (angka harapan hidup), pengetahuan (harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah), serta standar hidup layak (pengeluaran per kapita). Semakin tinggi skor, semakin baik kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut.
Bagi pemerintah daerah, data ini menjadi acuan untuk mengalokasikan anggaran. Kabupaten dengan IPM rendah biasanya mendapat prioritas lebih dalam program bantuan sosial, pembangunan sekolah, dan puskesmas.
Dari total 22 kabupaten/kota di NTT, hanya tujuh daerah yang masuk kategori IPM “tinggi” (70–80 poin). Sebanyak sembilan daerah berada di kategori “sedang” (60–70 poin), dan enam daerah masih “rendah” (di bawah 60 poin).
Pemerintah provinsi menargetkan peningkatan IPM NTT secara merata melalui program pembangunan desa dan peningkatan akses internet di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Namun, tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi hambatan utama.