SOE — Jacky Kaperwil, pengamat politik yang juga Kaperwil NTT Mitrapolisi.com, menulis dalam opini di Flobamora-News.Com pada Sabtu (30/5/2026) bahwa dua foto tersebut sering menjadi titik tolak yang membedakan arah kepemimpinan. "Kepemimpinan merakyat tidak lahir dari slogan. Cirinya sederhana: hadir sebelum viral," tulis Jacky.
Menurut Jacky, pemimpin yang merakyat memiliki pola yang konsisten. Saat banjir, ia sudah berada di dapur umum sebelum kamera datang. Saat APBDes dibahas, papan pengumuman dipajang di tiga titik agar warga bisa bertanya dan mengawasi. Keputusan lahir dari musyawarah, bukan titipan elite.
Ukuran keberhasilan pemimpin seperti ini bukan jumlah mobil dinas atau proyek seremonial. "Tapi angka stunting yang turun dan jalan desa yang tidak rusak tiap musim hujan," tegas Jacky.
Di sisi lain, Jacky mengidentifikasi pola kepemimpinan yang berorientasi pada akumulasi diri. Akses warga terhadap pemimpin tertutup. Proyek dibagi ke lingkaran dekat, dan tender sering kali selesai sebelum pengumuman resmi.
Gaya hidup pejabat tipe ini melonjak jauh di atas gaji resmi, namun Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tetap "aman" karena aset tercatat atas nama orang lain. "Warga berubah jadi penonton. Aspirasi masuk, tapi keputusan sudah final di meja lain," tulis Jacky dalam opini yang dikutip Flobamora-News.Com.
Jacky menekankan bahwa dua foto yang muncul setiap pelantikan kepala daerah — foto lesehan di balai desa dan foto potong pita proyek — bukan sekadar dokumentasi. Dua gambar itu adalah sinyal awal apakah seorang pemimpin akan memilih jalan merakyat atau jalan akumulasi.
Opini ini menjadi pengingat bagi masyarakat NTT untuk lebih jeli membaca tanda-tanda awal kepemimpinan, bukan hanya dari janji kampanye, tetapi dari gestur dan prioritas yang ditunjukkan sejak hari pertama menjabat.