KUPANG — Laporan bertajuk “Global AI NTT DATA 2026: A Playbook for Private and Sovereign AI” yang dirilis baru-baru ini memetakan lima pergeseran utama yang mengubah lanskap AI global. Temuan ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan di Indonesia, termasuk di NTT, yang tengah berlomba mengadopsi AI tanpa dibarengi fondasi keamanan yang matang.
Private AI berfokus pada pengamanan data internal perusahaan agar tidak bocor ke pihak luar atau kompetitor. Sementara itu, Sovereign AI memiliki cakupan lebih makro, yakni memastikan seluruh sistem dan lingkungan operasional AI patuh pada regulasi hukum nasional maupun regional. Kedua konsep ini lahir sebagai respons atas dilema aliran data bebas yang kini harus tunduk pada yurisdiksi setempat.
Riset tersebut mencatat bahwa 35% Chief AI Officer (CAIO) mengaku kesulitan mengelola model AI yang rumit di lingkungan privat. Lebih parah lagi, 60% pemimpin AI lainnya mengaku stres menghadapi aturan pembatasan data lintas negara. Akibatnya, banyak perusahaan memilih jalan pintas dengan mengintegrasikan AI secara serampangan tanpa merombak arsitektur sistem keamanan mereka terlebih dahulu.
Salah satu temuan paling kritis adalah rendahnya tingkat kepercayaan terhadap infrastruktur cloud. Hanya 38% responden yang berani menjamin bahwa benteng keamanan cloud mereka benar-benar kokoh untuk menampung data sensitif. Padahal, data perusahaan yang berpindah antar cloud dan aplikasi kini menjadi titik lemah utama karena harus tunduk pada hukum yurisdiksi setempat.
Melalui riset ini, NTT DATA memetakan lima pergeseran tren utama yang akan menentukan nasib proyek teknologi ke depan:
Menurut Abhijit Dubey selaku CEO dan Chief AI Officer NTT DATA Inc., perusahaan yang visioner tidak akan sekadar patuh pada aturan hukum demi menghindari denda. Mereka justru memanfaatkan momentum ini untuk membangun pondasi bisnis yang kuat agar AI milik mereka bisa fleksibel beroperasi di berbagai pasar global. Perusahaan yang bergerak cepat merombak infrastruktur diprediksi bakal mendominasi pasar dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Bagi pelaku industri di NTT yang tengah merintis adopsi AI, temuan ini menjadi sinyal bahaya. Tanpa langkah nyata memprioritaskan keamanan kedaulatan data, operasional bisnis rentan mengalami kebocoran data sensitif. Langkah integrasi yang serampangan tanpa memikirkan proteksi sejak awal, seperti yang disebut dalam riset, hanya akan membuat perusahaan tertinggal dalam persaingan global.
Riset NTT DATA 2026 menegaskan bahwa momentum untuk bertindak adalah sekarang. Perusahaan yang menunda eksekusi nyata dalam jangka pendek akan kesulitan mengejar ketertinggalan ketika regulasi semakin ketat dan persaingan semakin sengit. Bagi perusahaan di NTT, membangun pondasi Private AI dan Sovereign AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan di era digital.