NUSA TENGGARA TIMUR — Dalam sebuah wawancara eksklusif, Kroenke membeberkan perjalanan panjang kebangkitan Arsenal yang tidak selalu mulus. Kegagalan di final Liga Europa 2019 menjadi titik balik terbesar, memaksa pemilik klub untuk mengakui posisi tim dan mengambil langkah mundur demi melompat lebih jauh ke depan.
Kroenke menyaksikan langsung Arsenal dihancurkan Chelsea 4-1 di final Liga Europa 2019 di Baku. Ia menyebut 45 menit pertama laga itu sebagai "yang terburuk sepanjang musim".
"Melihat itu terjadi adalah pertama kalinya saya kembali dari perjalanan itu dan memberi tahu ayah saya bahwa kami harus benar-benar menerima posisi kami," ujar Kroenke. "Sekarang kami memiliki 100% klub, kami mungkin perlu mundur selangkah untuk maju di beberapa titik."
Keputusan merekrut Arteta sebagai pelatih kepala pertama di karier seniornya memang berisiko. Dua kali finis di posisi kedelapan, meski sempat menjuarai Piala FA 2020, membuat banyak pihak meragukan proyek pelatih asal Spanyol itu.
Namun, Kroenke melihat sisi lain dari pandemi yang memaksa pertandingan digelar tanpa penonton. "Ada sesuatu tentang Mikel yang memiliki sedikit 'ruang' selama Covid, saat tidak ada penggemar di sekitar," katanya. "Ada rasa sakit yang tumbuh selama pertandingan, tapi tidak memiliki tekanan ekstra dari suporter yang meneriaki Anda di berbagai titik mungkin adalah sebuah keuntungan yang tidak akan kami akui saat itu."
Menurut Kroenke, karakter Arteta lah yang membuat keputusan merekrutnya mudah. "Siapa pun yang mendapat kesempatan berada di dekat Mikel, Anda bisa percaya pada apa yang ia jual dengan mudah. Saya tidak akan memberikan kredit kepada diri saya sendiri atau ayah saya. Mikel, staf, dan para pemainlah yang berhak mendapatkan kesabaran itu melalui kerja keras mereka di belakang layar."
Kroenke mengakui transisi kepemilikan penuh klub pada 2018 bertepatan dengan tiga perubahan besar yang terjadi bersamaan. "Pertama, mengambil alih klub sepenuhnya. Kedua, manajer legendaris (Arsene Wenger) pergi. Ketiga, kepergian CEO Ivan Gazidis. Itu terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat," jelasnya.
Di tengah keterpurukan, muncul secercah harapan. Setelah final Baku, Kroenke bertanya kepada manajer akademi Per Mertesacker soal bek terbaik di Eropa. "Ia menjawab tanpa ragu: William Saliba."
Percakapan itu berujung pada pembelian Saliba dari Saint-Etienne seharga 27 juta poundsterling pada Juli 2019. Kini, bek Prancis tersebut menjadi pilar utama lini belakang Arsenal yang kokoh.