Petani Porang di Manggarai NTT Raup Omzet Rp 264 Juta di 2026, Empat Anggota Koptan Kompas Sudah Beli Mobil dan Motor

Penulis: Chandra Kusuma  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 19:07:32 WIB
Empat anggota Kelompok Tani Kompas di Manggarai berhasil membeli kendaraan pribadi dari hasil budidaya porang.

RUTENG — Empat anggota Kelompok Tani Pengusaha Porang Selalu Semangat (Kompas) di Desa Persiapan Ruis Timur, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, kini sudah memiliki kendaraan pribadi berkat hasil budidaya porang. Dua orang di antaranya membeli sepeda motor, sementara dua lainnya, termasuk ketua kelompok, berhasil membeli mobil pikap.

Ketua Koptan Kompas, Adrianus Harum, mengungkapkan bahwa hasil panen porang terus menunjukkan tren positif sejak kelompok ini terbentuk pada 2019. Pada 2026, ia memperkirakan produksi porang mencapai 24 ton dengan harga Rp 11.000 per kilogram, menghasilkan omzet sekitar Rp 264 juta. Secara kumulatif, omzet yang diraihnya selama beberapa tahun terakhir hampir mencapai setengah miliar rupiah.

Omzet Petani Porang di Manggarai Tembus Lebih dari Rp 1 Miliar

Adrianus menyebut, secara keseluruhan, hasil panen porang masyarakat di Desa Ruis, termasuk Desa Persiapan Ruis Timur, diperkirakan sudah menembus angka lebih dari Rp 1 miliar. Capaian ini menjadi bukti bahwa komoditas porang mampu menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan di daerah tersebut.

“Ini berkat kerja keras dan semangat dari kami semua. Terbukti sudah ada dua anggota yang membeli motor dan dua anggota lainnya membeli mobil pikap, termasuk saya sendiri. Budidaya porang ini sangat menjanjikan dengan bibit yang kami tanam,” ujar Adrianus kepada TRIBUNFLORES.com, Selasa (26/5/2026).

Dari Mana Awal Mula Budidaya Porang di Manggarai?

Adrianus mulai membudidayakan porang pada 2018 saat harga komoditas ini masih sangat menjanjikan. Setahun kemudian, ia bersama warga setempat mengadakan seminar tentang prospek tanaman porang dan membentuk Koptan Kompas sebagai wadah usaha bersama. Kelompok ini bertahan hingga kini dan terus berkembang.

Meski sempat mengalami masa sulit pada 2021–2022 akibat dampak pandemi Covid-19 dan perubahan industri porang, semangat petani tidak surut. Adrianus terus memberikan motivasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk tetap menanam porang.

Berapa Omzet Petani Porang dari Tahun ke Tahun?

Data yang dihimpun menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahunnya. Pada 2024, dengan harga Rp 7.500 per kilogram, Adrianus memanen 7 ton porang dan meraih omzet Rp 52,5 juta. Angka itu melonjak pada 2025 menjadi 14 ton dengan harga Rp 10.500 per kilogram, menghasilkan omzet Rp 147 juta. Puncaknya pada 2026, produksi mencapai 24 ton dengan omzet Rp 264 juta.

Apa Kendala Utama Petani Porang di Manggarai?

Di balik kesuksesan itu, Adrianus mengaku masih menghadapi sejumlah kendala. Akses jalan menuju lahan pertanian masih rusak, menyulitkan distribusi hasil panen. Selain itu, petani juga kesulitan mendapatkan bibit porang berkualitas dan kerap menghadapi kasus pencurian tanaman porang di kebun.

“Kami berharap pemerintah bisa membantu penyediaan bibit, perbaikan jalan, serta pengamanan dari kasus pencurian,” pungkasnya.

Berapa Omzet Petani Porang di Manggarai pada 2026?

Omzet yang diraih Adrianus Harum pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 264 juta dari hasil panen 24 ton porang dengan harga jual Rp 11.000 per kilogram.

Siapa Saja yang Berhasil Membeli Kendaraan dari Hasil Porang?

Empat anggota Koptan Kompas berhasil membeli kendaraan. Dua orang membeli sepeda motor dan dua lainnya, termasuk ketua kelompok, membeli mobil pikap.

Apa Kendala yang Dihadapi Petani Porang di Manggarai?

Tiga kendala utama yang dihadapi adalah akses jalan rusak, sulitnya memperoleh bibit, dan maraknya kasus pencurian tanaman porang di kebun.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: flores.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top