KUPANG — Peristiwa ini menambah panjang daftar korban gigitan anjing di Kecamatan Amfoang Barat Laut. Sebelumnya, enam warga dilaporkan menjadi korban gigitan anjing yang diduga terinfeksi virus rabies pada pekan yang sama. Camat Amfoang Barat Laut, Imran Kusuma, mengonfirmasi jumlah korban bertambah dari lima menjadi enam orang per Rabu (20/5/2026) malam.
Wempi Kebo diketahui digigit anjing sebanyak dua kali. Gigitan pertama terjadi pada awal Mei 2026, disusul gigitan kedua pada 14 Mei 2026 di Desa Oelfatu. Sekretaris Desa Saukibe, Jhoni Kuanine, menyebut korban baru menunjukkan gejala rabies pada minggu lalu, seperti takut air, udara, dan cahaya.
Jhoni mengungkapkan, pihak keluarga tidak langsung melaporkan insiden gigitan itu kepada pemerintah desa maupun tenaga kesehatan. Laporan baru disampaikan setelah kondisi Wempi memburuk dan menunjukkan gejala khas rabies.
"Dia mulai menunjukkan gejala pada minggu lalu, tapi yang lebih jelas nanti yang berkompeten mungkin dari Puskesmas Soliu yang bisa menyampaikan soal gejalanya," ujar Jhoni saat dihubungi detikBali.
Kapospol Soliu Aipda Johanis Garets Lerrik mengatakan, pihak keluarga justru menghubungi polisi untuk mengamankan Wempi setelah ia pulang dari Amfoang Tengah dalam kondisi tidak stabil. Lerrik mengaku belum bisa memastikan penyebab pasti kematian karena belum melakukan pengecekan ke puskesmas.
Situasi berbeda dialami enam warga lainnya yang juga menjadi korban gigitan anjing di Amfoang Barat Laut. Camat Imran Kusuma memastikan kelima korban—Paman Saleh, Jack Sae, Win Fomeni, Petrus Buknoni, dan Deli Banu—sudah mendapatkan vaksin antirabies (VAR) dan kondisinya membaik. Mereka dipulangkan ke rumah masing-masing setelah dirawat.
"Kondisinya sudah membaik dan sudah pulang ke rumah masing-masing. Jadi saya arahkan kepada kepala desa Oelfatu untuk semacam wawancara kepada para korban berkaitan dengan jenis dan ciri-ciri anjing tersebut karena memang itu anjing yang sama, tapi kami tidak tahu siapa pemiliknya," jelas Imran.
Imran menambahkan, stok vaksin antirabies di Puskesmas Soliu masih tersedia. Lima orang yang digigit pada Senin (18/5/2026) semuanya terkena gigitan di bagian kaki, bukan di kepala atau organ vital. Dua di antaranya adalah guru, termasuk Petrus Buknoni yang mengajar di SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut.
Pemerintah Desa Oelfatu bersama warga dan instansi terkait saat ini tengah berupaya mencari anjing yang diduga menjadi sumber penularan. Rencananya, hewan tersebut akan dieliminasi untuk mencegah korban bertambah. Namun, hingga berita ini diturunkan, pemilik anjing tersebut belum diketahui.
"Rata-rata kejadian (gigitan) di dalam rumah. Ada guru SMA dan SD kalau tidak salah, tetapi korban terakhir itu Pak Petrus Buknoni, guru SMA Negeri 1 Amfoang Barat Laut," ungkap Imran.