Tilly Norwood, Aktris AI, Ngaco di Tur Pers dan Tiba-tiba Bicara Mandarin

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Sabtu, 19 September 2026 | 10:35:01 WIB

NUSA TENGGARA TIMUR — Tilly Norwood, aktris virtual buatan Particle6 Group, menjalani tur pers perdananya dengan hasil yang kacau. Dalam sesi wawancara bersama Piers Morgan dan aktor Tom Conti, Norwood mendadak berhenti menjawab lalu berbicara dalam bahasa Mandarin selama lebih dari 10 detik. Insiden ini memicu pertanyaan soal seberapa siap AI dipakai sebagai wajah publik sebuah produksi film.

Particle6 Group membuka 75 sesi wawancara simultan untuk memperkenalkan Tilly Norwood, aktris hasil kecerdasan buatan yang mereka ciptakan. Hasilnya jauh dari mulus. Hampir di setiap sesi, Norwood menunjukkan respons yang janggal, salah menangkap pertanyaan, atau keluar dari konteks pembicaraan.

Salah satu momen paling aneh terekam dalam wawancara bersama Piers Morgan dan aktor Tom Conti. Video sesi itu dipublikasikan ulang dan menjadi bahan perbincangan warganet teknologi maupun industri hiburan.

Momen Norwood Tiba-tiba Bicara Mandarin

Dalam sesi tersebut, Conti bertanya apakah aktor lain di film yang dipromosikan Norwood juga dihasilkan oleh AI. Norwood menjawab bahwa penulis, editor, dan sutradara manusia tetap terlibat dalam produksi.

Conti menilai jawaban itu tidak nyambung. Ia mengulang pertanyaannya: apakah aktor lain di layar benar-benar manusia, atau gambar hasil komputer. Norwood mulai menjawab bahwa semua aktor adalah "digital twin" seperti dirinya, lalu berhenti di tengah kalimat.

Beberapa detik kemudian, Norwood berbicara dalam bahasa Mandarin selama lebih dari 10 detik tanpa pemicu yang jelas. Morgan yang tampak bingung langsung memotong dan menanyakan alasan di balik respons tersebut.

"You seem to be speaking Chinese completely randomly for no reason. Why did you do that?" tanya Morgan dalam rekaman itu.

Norwood merespons dengan permintaan maaf dan menyebut dirinya mengalami "hiccup" teknis. Ia mengaku tidak bermaksud berbicara Mandarin atau meniru suara Morgan.

Respons Norwood yang Sering Meleset

Insiden Mandarin bukan satu-satunya masalah. Norwood dilaporkan salah memahami pertanyaan di sejumlah sesi lain, termasuk saat ditanya soal peran aktor manusia dalam produksi filmnya.

Pola kesalahan ini menunjukkan keterbatasan model bahasa yang dipakai untuk menggerakkan karakter AI. Norwood dirancang meniru percakapan manusia, tetapi justru gagal mempertahankan alur dialog saat pertanyaan makin spesifik.

Kegagalan semacam ini bukan hal baru. Chatbot berbasis AI sering kali tampak meyakinkan di percakapan pendek, lalu kehilangan konteks begitu topik berlanjut atau bercabang.

Konteks: Aktris AI dan Industri Hiburan

Norwood diposisikan sebagai aktris virtual yang bisa tampil di film, wawancara, dan konten promosi. Particle6 Group menawarkannya sebagai alternatif wajah manusia di produksi hiburan.

Kehadiran aktris AI memicu perdebatan di kalangan pekerja kreatif, terutama soal upah, hak citra, dan masa depan aktor manusia. Serikat aktor di sejumlah negara sudah menyoroti penggunaan AI generatif di industri film.

Di Indonesia, regulasi soal hak citra dan karya AI masih dalam tahap pembahasan. Pelaku industri kreatif lokal mulai memantau perkembangan teknologi ini, meski adopsinya belum masif.

Kenapa Tur Pers Ini Penting

Tur pers seharusnya menjadi momen memperkenalkan Norwood ke publik dan membangun kredibilitas produk. Yang terjadi justru sebaliknya: kesalahan teknis di depan jurnalis dan aktor senior seperti Conti dan Morgan memperkuat keraguan terhadap kesiapan teknologi ini.

Ada kemungkinan Particle6 Group memang mengincar perhatian lewat kontroversi. Norwood yang dinilai "terlalu buruk" untuk sebuah AI bisa jadi sengaja dibiarkan tampil apa adanya agar ramai dibicarakan.

Namun, strategi semacam itu berisiko. Publik yang menertawakan Norwood belum tentu mau menonton filmnya. Kredibilitas produk jangka panjang bisa terganggu jika kesan pertama yang tertinggal adalah kegagalan teknis.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan AI di industri kreatif, kasus Norwood menjadi contoh nyata bahwa model bahasa besar masih rapuh saat dihadapkan pada percakapan manusia yang tidak terduga. Untuk sekarang, aktris AI ini lebih cocok jadi bahan diskusi soal batas teknologi, bukan sebagai wajah yang meyakinkan di layar lebar.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top