NUSA TENGGARA TIMUR — Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memaparkan hasil identifikasi pemerintah terkait gangguan pasokan energi yang memicu antrean panjang di masyarakat. Dalam Rapat Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8), ia menegaskan bahwa temuan ini masih memerlukan kajian tambahan untuk merumuskan langkah mitigasi yang tepat guna memulihkan proses distribusi.
"Kondisi panic buying ini, masyarakat membeli secara bersamaan sehingga terjadilah kelangkaan dan antrean," ujarnya di hadapan anggota dewan.
"Untuk proses distribusi BBM ini dilakukan melalui angkutan-angkutan sungai, dan pada saat ini sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala," jelasnya. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menambah pengiriman menggunakan truk via jalur darat. Meski kapasitasnya lebih kecil, penambahan volume angkutan darat diharapkan mampu menutupi kekurangan pasokan akibat gangguan cuaca.
Faktor ketiga datang dari bencana alam, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah terjadi. Menurut Laode, karhutla memperlambat laju pengiriman BBM dan LPG karena mengganggu jalur distribusi, yang pada akhirnya berpotensi menciptakan antrean di tingkat konsumen.
"Untuk masalah kelangkaan dan antrean ini identifikasi penyebabnya sudah kami lakukan. Sekarang dalam proses kita kaji untuk kita berikan solusi-solusi dalam proses pelaksanaannya," pungkas Laode.
Pemerintah berjanji akan merampungkan kajian dan segera menerapkan solusi konkret untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa hambatan berarti.