NUSA TENGGARA TIMUR — Dony Oskaria menyebut realisasi laba Danantara saat ini telah mencapai Rp 330 triliun, lebih besar dari pendapatan bersih Temasek yang ia perkirakan hanya Rp 136 triliun. "Jadi kalau secara size daripada net income tentu kami sudah lebih besar daripada Temasek, tahun ini kami harapkan Rp 360 triliun, hampir dua kali lipat daripada Temasek," ujarnya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Senin (24/8).
Namun, perbandingan tersebut langsung dibantah oleh pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan. Ia menegaskan pernyataan Dony keliru karena berdasarkan laporan resmi Temasek, laba bersih perusahaan pelat merah Singapura itu mencapai SG$ 28,8 miliar pada tahun fiskal 2025. Dengan asumsi kurs rata-rata Rp 12.600 per dolar Singapura, nilai tersebut setara sekitar Rp 362,9 triliun—lebih tinggi dari target Danantara.
Herry merujuk pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2025 yang telah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berdasarkan dokumen tersebut, laba BPI Danantara tercatat Rp 145,3 triliun, sementara Danantara Asset Management membukukan laba sekitar Rp 149,2 triliun yang berasal dari kinerja BUMN di bawahnya.
Perbedaan signifikan antara angka yang disebut pejabat Danantara dan catatan BPK ini menjadi dasar kekhawatiran akan akurasi data. Herry menilai pernyataan Dony terlalu berlebihan dan berisiko menimbulkan salah persepsi di pasar.
"Berharap boleh, tapi hati-hati juga mengungkap data, karena meleset dikit bisa dianggap menyebarkan informasi palsu. Dia harus jaga nama baik lembaga dan jabatannya yang mentereng," kata Herry kepada Katadata.co.id, Rabu (26/8).
Sorotan juga tertuju pada fundamental emiten BUMN yang menjadi sumber laba Danantara. Berdasarkan LKPP 2025, lima BUMN tercatat sebagai penyumbang dividen terbesar dari tahun buku 2024 yang dibayarkan pada 2025:
Meski menjadi kontributor utama, mayoritas perusahaan tersebut justru mencatatkan penurunan laba pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertamina menjadi satu-satunya yang masih membukukan pertumbuhan laba sebesar 6,83%, sementara laba BRI, MIND ID, dan Telkom tercatat turun.
Herry mendorong Danantara segera membuka laporan keuangannya kepada publik agar masyarakat bisa menilai kebenaran kinerja yang disampaikan. Ia juga menyoroti potensi pertanyaan dari otoritas bursa dan investor jika data yang dikeluarkan manajemen tidak sesuai dengan laporan audited.
"Sehingga masyarakat dapat menilai apakah yang disampaikan benar atau keliru. Ini lebih penting, karena kalau sampai keliru, kasihan BUMN yang sudah jadi perusahaan publik. Nanti malah jadi pertanyaan otoritas bursa atau para investornya," ujarnya.
Herry juga meminta Ditjen Pajak memverifikasi kesesuaian antara pajak yang dibayarkan dan laba yang disampaikan Dony, mengingat akuntabilitas menjadi bagian dari komitmen tata kelola yang selama ini ditegaskan Danantara. Sebagai pembanding, Temasek rutin mempublikasikan laporan kinerja investasinya secara berkala, meski menggunakan tahun buku yang berakhir setiap 31 Maret.