Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memetakan dampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), lewat serangkaian survei teknis di empat kabupaten. Tim gabungan tengah mengumpulkan data lapangan untuk menentukan langkah pemulihan dan memperkuat mitigasi risiko di wilayah yang diguncang gempa tersebut.
JAKARTA — Tim teknis BMKG masih bekerja di lapangan untuk memverifikasi dampak gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Survei yang berlangsung di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Nagekeo ini menyasar tiga aspek utama: guncangan tanah, karakteristik bawah permukaan, dan kondisi pesisir pascagempa.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan data faktual dari lapangan menjadi kunci penentu arah pemulihan. "Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif," ujarnya di Jakarta, Sabtu.
Ada tiga jenis survei yang dijalankan secara paralel untuk mendapatkan gambaran utuh. Pertama, survei makroseismik untuk memverifikasi tingkat guncangan dan mendokumentasikan kerusakan bangunan secara langsung. Kedua, survei mikroseismik yang mengukur karakteristik tanah memakai metode mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW).
Metode kedua ini penting untuk mengetahui struktur bawah permukaan yang menentukan seberapa kuat sebuah wilayah merespons getaran gempa. Ketiga, survei tsunami yang fokus memverifikasi dampak perubahan muka air laut di kawasan pesisir setelah gempa.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensi, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengungkapkan pemetaan sementara sudah menemukan kerusakan pada rumah warga, fasilitas publik, dan bangunan lain. Namun, temuan itu masih bersifat observasi awal yang membutuhkan pendalaman.
"Instansi atau tenaga teknis yang memiliki kewenangan di bidang struktur bangunan tetap harus memeriksa keamanan struktur bangunan secara lebih detail," kata Teguh. Timnya masih mengumpulkan data untuk memastikan distribusi tingkat guncangan serta pola kerusakan yang terjadi.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menyebut sosialisasi informasi ke pemerintah daerah dan warga terus berjalan beriringan dengan pengukuran di lapangan. Seluruh data yang terkumpul akan dianalisis komprehensif menjadi kajian teknis pascagempa.
Kajian tersebut nantinya menjadi dasar bagi pemerintah dalam penanganan pascabencana, perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta penguatan mitigasi risiko gempa di NTT. Hasil akhir survei diharapkan rampung dalam waktu dekat untuk mempercepat proses pemulihan wilayah terdampak.