Pencarian

DJPb NTT dan PIP Latih 12 Penenun TTU Olah Kain Jadi Jaket hingga Tas, Incar Pasar Eropa

Rabu, 16 September 2026 • 08:52:31 WIB
DJPb NTT dan PIP Latih 12 Penenun TTU Olah Kain Jadi Jaket hingga Tas, Incar Pasar Eropa
Penenun binaan PIP mengikuti pelatihan menjahit di Gerai Nice Handycraft, Kota Kupang, 13-30 September 2026.

Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Nusa Tenggara Timur bersama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) mendorong penenun Kabupaten Timor Tengah Utara mengembangkan produk turunan tenun menjadi fesyen dan aksesori bernilai jual tinggi. Pelatihan menjahit selama 18 hari pada 13-30 September 2026 di Gerai Nice Handycraft, Kota Kupang, diikuti 12 penenun dari enam desa yang tergabung dalam 11 kelompok. Pengembangan produk ini diarahkan menembus pasar luar negeri, termasuk Eropa dan Amerika, melalui skema off-taker.

KUPANG — Kepala Bidang PPA II Kanwil DJPb NTT Dirgohaju Widodo menyatakan pengembangan produk turunan menjadi salah satu cara menambah nilai ekonomi tenun TTU sekaligus menjaga keberlanjutan usaha para penenun lokal. Pendampingan PIP terhadap perajin di Kampung Tenun TTU sendiri sudah berjalan sejak 2024.

Cakupan pendampingan itu meliputi perbaikan mutu lewat pewarnaan alami, pembaruan pola, penyediaan peralatan, hingga pelatihan keterampilan. Lewat pelatihan menjahit, kain tenun diarahkan menjadi produk fesyen seperti jaket agar harga jualnya naik.

Pewarna Alami Jadi Nilai Tawar di Pasar Eropa

Staf Divisi Kerja Sama Pendanaan PIP Mochamad Sopian menyebut pengembangan produk tenun juga diarahkan memperluas akses pasar melalui off-taker di Kupang, Jakarta, dan Surabaya. Skema itu memungkinkan penenun memproduksi kain maupun produk turunannya sesuai kebutuhan pasar sehingga aktivitas produksi berjalan berkelanjutan.

PIP telah menjajaki kerja sama dengan salah satu eksportir produk turunan tenun yang memiliki pasar di Eropa. Peluang itu terbuka karena tenun NTT identik dengan pewarna alami yang diminati pembeli Eropa dan Amerika.

"Kita sudah dapatkan buyer atau off-taker untuk nanti mama-mama ada kesinambungan, menenunnya berkelanjutan," kata Sopian.

150 Penenun di Enam Desa Didampingi Sejak 2024

Selama ini PIP mendampingi sekitar 150 penenun di enam desa. Dukungan yang diberikan mencakup alat tenun, bahan baku, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas produksi.

Produk turunan yang dikembangkan tidak terbatas pada pakaian. Perajin juga membuat pakaian luar, tas, dompet, selendang, perlengkapan meja, suvenir, dan produk dekorasi rumah.

Bimbingan Teknis Menjahit bagi penenun binaan Program Kampung UMi Klaster Tenun berlangsung 18 hari, 13-30 September 2026, di Gerai Nice Handycraft, Kota Kupang. Pesertanya 12 penenun, terdiri atas 10 perempuan dan dua laki-laki, berasal dari enam desa dan tergabung dalam 11 kelompok.

Kaderisasi Keterampilan ke Generasi Muda

Dirgohaju berharap keterampilan menenun dan menjahit yang diperoleh peserta bisa diteruskan ke generasi muda. Dengan begitu, Kampung Tenun TTU diharapkan makin mandiri dan tenun tetap bertahan sebagai produk unggulan NTT.

"Kita berharap juga nanti akan diturunkan keahlian dari mama-mama ini, baik itu untuk menenun dan untuk menjahit kepada generasi selanjutnya," ujarnya.

Penguatan akses pasar tersebut menjadi bagian dari persiapan kemandirian penenun pada 2027. Tujuannya agar mereka tetap punya pasar setelah pendampingan pemerintah berakhir.

Follow halokupang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kupang.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks