JAKARTA — Agustus kerap menjadi bulan yang konstruktif bagi pergerakan IHSG, meski tidak selalu menghasilkan imbal hasil positif setiap tahun. Data Bloomberg Terminal menunjukkan penguatan terbesar terjadi pada Agustus 2024 dengan persentase 5,72 persen, sedangkan koreksi terdalam tercatat pada Agustus 2015 yang menyentuh 6,10 persen.
Musim rilis laporan keuangan emiten kuartal II atau semester I menjadi pendorong utama. Investor memiliki dasar fundamental yang lebih jelas dalam mengambil keputusan investasi, sekaligus menjadi periode dimulainya rotasi portofolio menuju saham-saham yang diperkirakan memiliki kinerja lebih baik di semester II.
Strategi yang Disarankan untuk Investor Ritel
Nafan Aji Gusta menilai strategi paling tepat bagi investor ritel adalah memadukan akumulasi bertahap dengan strategi trading pada saham yang sedang memiliki momentum positif. Ia mengingatkan agar investor tidak mengejar saham yang telah mengalami kenaikan terlalu tinggi dalam waktu singkat.
"Buy on weakness atau akumulasi bertahap, dipadukan dengan trading pada saham yang sedang memiliki momentum. Lalu, hindari mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi dalam waktu singkat," ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (5/8/2026).
Indikator yang Perlu Dicermati Sepanjang Agustus
Terdapat sejumlah indikator yang perlu dipantau investor ritel selama Agustus tahun ini. Pergerakan investor asing melalui data net buy maupun net sell menjadi sinyal utama, diikuti nilai tukar rupiah, imbal hasil (yield) US Treasury, dan indeks dollar Amerika Serikat (DXY).
Harga komoditas utama seperti minyak, emas, nikel, batu bara, dan crude palm oil (CPO) juga masuk daftar pemantauan. Selain itu, investor perlu mencermati pergerakan kontrak berjangka indeks saham AS, volume transaksi dan market breadth IHSG, serta kalender rilis data ekonomi penting dan laporan keuangan emiten.
Komposisi Portofolio untuk Profil Risiko Moderat
Bagi investor dengan profil risiko moderat, Nafan menyarankan komposisi portofolio disusun dengan 70-80 persen ditempatkan pada saham dan 20-30 persen dalam bentuk kas. Porsi kas dinilai penting untuk menjaga fleksibilitas.
"Bagi investor moderat 70-80 persen saham. Lalu 20-30 persen kas. Kas tetap penting untuk memanfaatkan peluang apabila terjadi koreksi mendadak," paparnya.
Dengan cadangan kas tersebut, investor memiliki ruang gerak untuk melakukan akumulasi saat pasar mengalami koreksi mendadak. Pendekatan ini menjadi jaring pengaman di tengah ketidakpastian pergerakan pasar global yang masih dipengaruhi kebijakan suku bunga dan dinamika harga komoditas.