Kia Akui Industri Lupakan Penggemar Setir: Mobil Fun Makin Langka

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Selasa, 03 November 2026 | 15:34:31 WIB
Kepala engineer ride and handling Kia Australia, Graeme Gambold, menilai industri otomotif kini lebih memprioritaskan layar besar dan fitur keselamatan dibanding sensasi menyetir.

NUSA TENGGARA TIMUR — Kepala engineer ride and handling Kia Australia, Graeme Gambold, menyatakan kaum penggemar berkendara sedang "sangat tidak puas" karena industri otomotif kini lebih fokus pada layar besar dan fitur keselamatan ketimbang sensasi menyetir. Kritik Gambold muncul saat Kia justru tengah menyiapkan penerus Stinger berupa sedan listrik performa tinggi yang belum jelas kapan meluncur.

Graeme Gambold bukan nama yang sering muncul di berita otomotif Indonesia. Posisinya di Kia Australia sebagai chief ride and handling engineer membuatnya bertanggung jawab atas karakter kemudi dan sasis semua model Kia yang dijual di sana. Dalam wawancara dengan majalah carsales, Gambold menyampaikan keluhan yang jarang terdengar terbuka dari mulut engineer pabrikan.

Inti kritiknya sederhana: mobil modern makin pintar, tapi makin sedikit yang benar-benar menyenangkan dikemudikan. Dia menilai produsen sudah "benar-benar melupakan" segmen pembeli yang masih menikmati proses menyetir itu sendiri.

Siapa yang Dimaksud Gambold dengan "Kita"

Gambold tidak bicara soal konsumen umum. Dia menyebut dirinya sendiri, orang-orang di kelompok demografinya, dan mereka yang tertarik motorsport sebagai pihak yang terdampak. Kelompok ini, menurutnya, sedang berada di posisi tidak nyaman karena prioritas industri bergeser ke arah lain.

Keluhan utamanya bukan soal mobil lambat atau mesin lemah. Justru sebaliknya, tenaga mesin terus naik dari generasi ke generasi. Yang hilang adalah rasa keterlibatan pengemudi dalam proses berkendara.

Intervensi Elektronik Jadi Sasaran Utama

Selain soal karakter setir, Gambold menyoroti membanjirnya sistem keselamatan yang aktif mencampuri kendali kendaraan. Menurutnya, kini sulit mencari mobil yang punya fitur lengkap tapi tanpa intervensi elektronik yang tidak diinginkan.

Dia menyampaikan langsung ketidaknyamanannya soal hal ini. "Sulit sekali menemukan mobil yang enak dikendarai. Sulit menemukan mobil yang punya semua fitur tapi tanpa intervensi keselamatan, karena saya tidak membutuhkannya," ujarnya seperti dikutip carsales.

Pernyataan itu perlu dibaca dengan konteks. Regulator di banyak negara, termasuk Eropa dan Australia, memang mewajibkan sejumlah fitur keselamatan pada mobil baru. Mulai dari intelligent speed assistance, lane-keeping, hingga automatic emergency braking. Pabrikan tidak bisa begitu saja mencabutnya meski ingin.

Kia Sudah Punya Bukti, Tapi Belum Cukup

Kritik Gambold terasa janggal karena Kia sendiri punya rekam jejak membuat mobil yang enak dikendarai. EV6 GT mendapat pujian luas soal sasis dan respons kemudi. Stinger, meski sudah dihentikan produksinya, menjadi bukti Kia mampu membuat sedan performa yang terasa hidup.

Masalahnya, dua model itu berada di kelas harga premium. Belum ada mobil Kia murah yang benar-benar berorientasi pada kesenangan menyetir. Di sinilah celah yang sebenarnya disorot, bukan sekadar keluhan soal regulasi.

Penerus Stinger Sudah Diumumkan, Tapi Masih Jauh

Kia sebenarnya sudah memberi sinyal soal arah baru ini. Versi produksi dari konsep Vision Meta Turismo disebut akan menjadi penerus tidak langsung Stinger. Model ini digadang sebagai sedan sport listrik yang menyasar generasi yang tumbuh besar dengan game.

Kepala desain Kia Karim Habib menyebut proyek ini sebagai upaya keluar dari dominasi SUV dan menghadirkan sesuatu yang lebih emosional. Sayangnya, biaya pengembangan tinggi membuat progresnya lebih lambat dari yang diharapkan Kia sendiri.

Habib mengakui proyek ini belum berjalan secepat yang diinginkan. Tidak ada tanggal peluncuran resmi, dan kedua model tersebut diperkirakan tidak hadir dalam dua tahun ke depan. Satu varian fastback disebut sudah sekitar 90 persen siap produksi, tapi itu belum jaminan waktu.

Yang Perlu Diperhatikan dari Pernyataan Ini

  • Kritik datang dari engineer internal Kia, bukan pengamat luar, sehingga bobotnya berbeda
  • Tidak ada model konkret yang dijanjikan dalam waktu dekat, hanya arah pengembangan
  • Regulasi keselamatan tetap mengikat, jadi "mobil tanpa intervensi" praktis tidak mungkin dijual massal
  • Penerus Stinger menyasar segmen listrik performa, bukan mobil terjangkau seperti yang dikeluhkan Gambold

Konteks untuk Pembeli di Indonesia

Bagi konsumen Indonesia, perdebatan ini relevan tapi belum mendesak. Pilihan mobil Kia di pasar lokal masih didominasi SUV dan MPV, bukan model performa. EV6 GT bahkan tidak masuk secara resmi ke Indonesia.

Yang bisa diambil dari pernyataan Gambold adalah sinyal arah. Kalau Kia serius membangun sedan listrik performa sebagai penerus Stinger, model itu berpotensi masuk ke pasar Asia Tenggara mengingat tren elektrifikasi yang tumbuh. Tapi dengan timeline yang masih kabur, jangan berharap dalam waktu dekat.

Sampai saat itu tiba, penggemar setir di Indonesia yang ingin mobil baru dengan karakter berkendara kuat masih harus melihat merek lain. Atau membeli Stinger bekas, yang kini justru makin sulit dicari.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: motor1.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top