NUSA TENGGARA TIMUR — ExxonMobil membukukan pendapatan yang disesuaikan sebesar US$ 17,5 miliar atau Rp 317,57 triliun pada kuartal III-2026, melampaui perkiraan analis Wall Street sebesar US$ 16,6 miliar. Lonjakan ini ditopang kenaikan harga bahan bakar dan gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina.
Pendapatan hilir ExxonMobil melesat 120 persen dari kuartal sebelumnya menjadi US$ 9 miliar atau Rp 163,32 triliun. Margin penyulingan yang lebih tinggi menjadi pemicu utama, seiring kekurangan pasokan diesel global yang membuat harga bahan bakar melambung.
Kondisi ini terjadi ketika pertempuran di kawasan Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina mengganggu kapasitas produksi bahan bakar dunia. Gangguan pasokan yang awalnya merugikan konsumen justru menjadi berkah bagi raksasa migas asal Amerika Serikat itu.
Di sisi hulu, pendapatan ExxonMobil yang disesuaikan tercatat US$ 7,3 miliar atau Rp 132,47 triliun pada kuartal III-2026. Angka itu turun 20 persen dibanding kuartal II, karena harga minyak mentah Brent sebagai acuan global lebih rendah daripada tiga bulan sebelumnya.
Meski demikian, produksi perusahaan tetap stabil di level 4,5 juta barel setara minyak per hari, kurang lebih sama dengan kuartal II. Dari produk khusus, ExxonMobil meraup laba disesuaikan US$ 1,3 miliar atau Rp 23,59 triliun, naik 32 persen dari kuartal sebelumnya.
Secara keseluruhan, laba per saham yang disesuaikan untuk pemilik saham ExxonMobil mencapai US$ 4,23 atau Rp 76.761 per lembar. Realisasi itu melampaui estimasi analis yang memperkirakan rata-rata US$ 4,08 atau Rp 74.039 per lembar.
CEO ExxonMobil Darren Woods menyatakan perusahaan terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global. "Kami terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global, dengan memanfaatkan skala, integrasi, dan kemampuan teknis yang tak tertandingi," kata Woods, seperti dikutip Reuters, Sabtu (31/10/2026).
Dari laba yang diraup, ExxonMobil membayarkan dividen sebesar US$ 4,3 miliar atau Rp 78,03 triliun. Perusahaan juga membeli kembali saham (buyback) senilai US$ 5,1 miliar atau Rp 92,54 triliun.
Setelah itu, ExxonMobil mengumumkan program buyback saham senilai US$ 20 miliar atau Rp 362,94 triliun untuk tahun 2027. Jumlahnya sama dengan program pada 2026, sinyal bahwa perusahaan tetap percaya diri dengan arus kasnya meski harga minyak berfluktuasi.
Reuters melaporkan kilang-kilang ExxonMobil di Pantai Teluk AS mencapai tingkat produksi diesel tertinggi kedua dalam sejarah. Unit pengolahan minyak mentah di fasilitas itu juga beroperasi pada tingkat pemanfaatan 100 persen.
Bagi investor, capaian kuartal III-2026 ini menunjukkan strategi integrasi hulu-hilir ExxonMobil mampu menyerap guncangan harga minyak mentah. Ketika pendapatan hulu turun, margin penyulingan di segmen hilir mengambil alih peran sebagai penopang laba.