FLORES TIMUR — Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Herman S Boro, menyampaikan evaluasi kegempaan periode 1–15 Oktober 2026 dalam laporan yang diterima di Kupang. Gempa embusan justru sedikit naik dari 31 menjadi 33 kejadian. Tremor non-harmonik tetap mendominasi dengan 282 kejadian sepanjang periode pengamatan.
Penurunan sejumlah parameter kegempaan belum berarti potensi erupsi hilang sepenuhnya. Masih terekam gempa yang berkaitan dengan dinamika fluida dan gas di dalam tubuh gunung api.
Selama 1–15 Oktober 2026, tidak terekam gempa letusan maupun gempa guguran. Kondisi itu melanjutkan periode sebelumnya yang juga tidak mencatat erupsi.
Erupsi terakhir Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat pada 31 Agustus 2026. Pengamatan visual menunjukkan gunung terpantau jelas hingga tertutup kabut tebal, dengan asap kawah utama berwarna putih berintensitas tipis hingga sedang setinggi sekitar 50–200 meter di atas puncak.
Data deformasi hingga 15 Oktober 2026 belum menunjukkan indikasi inflasi atau peningkatan tekanan magmatik secara menyeluruh. Alat tiltmeter di Nurabelen relatif stabil.
Data Global Navigation Satellite System (GNSS) masih memperlihatkan perubahan horizontal yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Penurunan parameter kegempaan dan belum adanya peningkatan tekanan magmatik secara konsisten menunjukkan aktivitas vulkanik saat ini relatif stabil.
Status Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada level II atau waspada. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi.
Warga juga perlu mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang aliran airnya berhulu di puncak gunung, terutama saat hujan berintensitas tinggi. Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Klatanlo, Hokengjaya, Boru, Nawakote, dan Nurabelen.
Pos pengamatan terus melakukan evaluasi visual dan instrumental untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api di Flores Timur tersebut.