RUTENG — Bupati Manggarai Herybertus Nabit menyatakan pemerintah kabupaten belum memiliki kapasitas memadai untuk menangani dampak psikologis pengungsi gempa. Keterbatasan tenaga profesional membuat layanan pemulihan trauma baru menjangkau sebagian kecil warga terdampak. Sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat sudah masuk memberikan bantuan, tetapi cakupannya masih sempit.
“Penanganan trauma kami harus akui tidak punya kemampuan sumber daya di situ,” kata Herybertus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, Minggu malam.
Data Pemkab Manggarai hingga lebih dari dua bulan pascagempa mencatat 1.301 warga masih mengungsi di 17 posko. Sebanyak 7.091 warga lainnya memilih mendirikan tenda sendiri di dekat rumah mereka yang rusak.
Dari total pengungsi, 1.054 jiwa masuk kategori kelompok rentan. Rinciannya 335 anak-anak, 265 warga lanjut usia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas.
Herybertus menyebut pendampingan psikososial saat ini terbatas di kalangan anak-anak sekolah. Padahal warga dewasa juga mengalami tekanan psikologis karena gempa menghancurkan sumber penghidupan mereka.
Kelompok lanjut usia dinilai paling rentan. Warga lansia sudah tidak lagi produktif bekerja sehingga lebih mudah putus asa terhadap kepastian masa depan. Bupati mengaku khawatir angka bunuh diri muncul di kalangan ini.
“Hal ini tentu saja butuh penanganan khusus oleh orang yang professional,” kata Bupati.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan lembaganya membantu kekurangan tenaga pemulihan psikososial lewat pelatihan relawan lokal. Tahap pertama melatih 20 trainer yang kini bergerak di 62 titik.
Pelatihan tahap dua menyiapkan 32 relawan, sedangkan tahap tiga melatih 42 orang. Para relawan itu disebar ke berbagai penjuru Manggarai untuk mendampingi warga terdampak, khususnya anak-anak.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Manggarai Wensiaus Sedan menyebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan mengirimkan 70 orang master trainer. Mereka bertugas melatih guru agar mampu melakukan pemulihan psikososial siswa terdampak gempa.
Guru yang sudah dilatih nantinya meneruskan pelatihan ke rekan-rekan di sekolah masing-masing. Pola berjenjang ini diharapkan memperluas jangkauan pendampingan psikososial kepada siswa.
Herybertus berharap pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM bergerak bersama menangani trauma seluruh kalangan warga, dari anak-anak hingga lanjut usia. Pemkab Manggarai masih membuka koordinasi bagi pihak yang ingin membantu di posko tanggap darurat.