KUPANG — Fenomena El Nino yang bertahan pada level sangat kuat membuat BMKG menempatkan NTT dalam daftar wilayah kewaspadaan kekeringan. Pemantauan menggunakan Indeks Nino 3.4 menunjukkan kondisi ini tidak hanya memicu kekeringan berkepanjangan, tetapi juga menggeser jadwal datangnya hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Selain NTT, wilayah lain yang masuk daftar kewaspadaan meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. NTT mendapat sorotan khusus karena karakteristik iklimnya yang relatif kering dibanding wilayah lain di Indonesia.
BMKG menyatakan potensi kekeringan masih akan berlanjut hingga Oktober, khususnya untuk wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Pernyataan itu disampaikan melalui kanal resmi @infobmkg, Kamis (8/10/2026).
Kondisi kering yang lebih panjang meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Sektor pertanian dan peternakan di NTT juga terancam terganggu akibat keterlambatan pasokan air.
Keterlambatan datangnya hujan membuat warga harus bersiap menghadapi periode tanpa hujan yang jauh lebih lama dari kondisi normal.
BMKG memetakan wilayah NTT dalam dua fase utama terkait kapan musim hujan akan tiba:
Dampak El Nino yang sangat kuat ini diperkirakan baru berangsur membaik seiring mulainya musim hujan di masing-masing wilayah terdampak. Fenomena ini diprediksi baru berakhir pada akhir caturwulan pertama 2027.
BMKG mengimbau masyarakat NTT dan wilayah Indonesia Timur lainnya agar tidak hanya mengandalkan jadwal perkiraan awal musim hujan semata. Warga diminta proaktif memantau pembaruan informasi terkini karena prediksi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan atmosfer.
"Seiring perkembangan kondisi iklim, BMKG akan terus memperbarui prediksi. Masyarakat diimbau selalu mengecek informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG," pesan BMKG.
Pemantauan berkala terhadap kanal resmi BMKG menjadi langkah paling praktis bagi warga NTT yang hendak menyusun jadwal tanam atau mengatur cadangan air untuk kebutuhan rumah tangga.