NUSA TENGGARA TIMUR — Low Tuck Kwong melepas 33.333.335 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di harga Rp 11.025 per saham, jauh di bawah harga pasar. Transaksi itu mengantongi dana Rp 367,5 miliar bagi pengendali emiten batu bara tersebut. Aksi jual ini muncul bersamaan dengan manuver Haji Isam yang bersiap masuk lewat pasar negosiasi.
Laporan kepemilikan saham terbaru BYAN mencatat porsi Low Tuck Kwong tergerus menjadi 13.383.588.535 saham atau setara 40,15%. Sebelum transaksi, orang terkaya nomor wahid di Indonesia itu menggenggam 13.416.921.870 saham atau 40,25% dari total saham beredar.
Penjualan tersebut berlangsung tak lama setelah pasar negosiasi BYAN dihebohkan transaksi crossing jumbo. Nilainya mencapai sekitar Rp 3,82 triliun untuk volume sekitar 1,48 miliar saham.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, mengutip data Bloomberg menyebut transaksi pertama terjadi pukul 09.38.08 WIB. Volumenya 705,03 juta saham di harga Rp 2.588 per saham, senilai Rp 1,82 triliun.
Lanjutan transaksi crossing muncul pukul 09.39.04 WIB dengan volume 772,45 juta saham di harga yang sama. Nilai transaksi kedua mencapai Rp 1,99 triliun.
Pada perdagangan intraday pukul 10.45 WIB, saham BYAN anjlok 5,95% ke Rp 12.650 dengan kapitalisasi pasar Rp 421,67 triliun. Volume yang diperdagangkan tercatat 4,14 juta saham senilai Rp 55,81 miliar. Transaksi crossing itu terjadi di harga diskon 76,53% dari harga pasar saat itu.
Manuver Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama menjadi latar transaksi jumbo tersebut. Jumlah saham biasa BYAN yang akan dialihkan ke Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham, dari sebelumnya 10.000.000.500 saham atau sekitar 30%.
Manajemen BYAN belum mengungkap harga pasti aksi korporasi itu. Angka yang beredar di publik masih bersifat indikatif.
Laporan sekitar 10 September menyebut nilai sekitar US$ 3 miliar untuk transaksi 62,2% saham BYAN. Angka itu muncul sebelum perjanjian Jhonlin Baratama, dan BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut.
Jika angka US$ 3 miliar dipakai sebagai acuan untuk menghitung nilai 30% saham BYAN, nilainya sekitar US$ 1,45 miliar atau sekitar Rp 25,92 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.876. Fauzan menyoroti angka tersebut setara dengan kisaran Rp 2.530-Rp 2.590 per saham.
Nilai itu jauh di bawah rata-rata harga saham BYAN selama 90 hari yang mencapai Rp 12.643. Dengan asumsi harga tersebut, valuasi BYAN berada pada kisaran 5,7-5,9 kali laba bersih, dibandingkan 26,9 kali pada penutupan perdagangan 22 September.
"Tapi jadi gambaran aja, di pasar nego ada yang nge-pricing BYAN di fundamental nya, itu di 20% current value, jadi sentiment negative, perhaps temporarily," ucap Fauzan kepada Katadata.co.id.
Diskon 76,53% pada harga crossing menjadi sinyal bahwa pembeli mendapat harga jauh di bawah valuasi pasar. Bagi investor ritel, selisih itu bisa memicu tekanan jual lanjutan jika harga negosiasi dianggap sebagai acuan nilai wajar BYAN.
Fauzan menilai pricing di pasar negosiasi mencerminkan valuasi fundamental pembeli, bukan harga pasar reguler. Sentimen negatif yang muncul dinilainya bisa bersifat sementara, bergantung pada penyelesaian transaksi dan pengungkapan resmi dari manajemen BYAN.