NUSA TENGGARA TIMUR — Gabe Simon memindahkan keluarganya dari Nashville ke London untuk menjadi produser-in-residence di RAK Studios. Produser di balik album Stick Season dan The Great Divide milik Noah Kahan itu mengaku sengaja mencari ketidaknyamanan demi memacu proses kreatifnya. Langkah tersebut menandai babak baru kariernya setelah lebih dari dua dekade berkarya di industri musik Amerika.
Simon mengaku kepindahannya ke Inggris bukan keputusan spontan. Ia ingin keluar dari zona nyaman yang sudah ia bangun selama lebih dari dua dekade di Nashville, kota yang membesarkan namanya sebagai salah satu produser paling dicari di musik populer saat ini.
"We're on an adventure right now," kata Simon. "I wanted to be uncomfortable."
Nama Simon paling dikenal sebagai arsitek suara di balik Stick Season, album folk-pop Noah Kahan yang rilis 2022 dan melambungkan nama penyanyi tersebut. Ia juga menangani album lanjutan Kahan, The Great Divide, yang mendapat pujian kritikus.
Sebelum terjun ke produksi, Simon menempuh pendidikan musik di Belmont University, Nashville, dan lulus pada 2011. Ia sempat mendirikan serta menjadi vokalis band indie-rock Kopecky yang menandatangani kontrak dengan ATO Records.
Ia juga menulis lagu untuk Dua Lipa dan Lana Del Rey sebelum beralih penuh ke kursi produser. "I was quickly dissatisfied," ujarnya soal masa-masa menjadi penulis lagu. "I needed to do more. I need to be touching every part of the music."
Kemampuan Simon beradaptasi di berbagai genre jadi pembeda utamanya. Ia memproduseri album untuk musisi country Koe Wetzel, penyanyi pop-rock James Bay, musisi sekaligus aktris Suki Waterhouse, Myles Smith, dan Dermot Kennedy.
"I'm trying to work on genres I don't know much about," kata Simon. "When I did Stick Season, I had never made a folk record before. And I felt like I had no business making a folk record."
Wetzel, penyanyi country asal Texas, pertama kali bekerja sama dengan Simon lewat album 9 Lives (2025) dan berlanjut di The Night Champion. Ia menyebut pengalaman itu seperti sesi terapi pertamanya.
"When Gabe and I first started working together, he sat me down and really pushed me to open up about parts of my life I'd never written about before," kata Wetzel. "He's not afraid to keep asking questions until we get to the thing underneath the thing."
Di RAK Studios, Simon tertawa saat melihat foto-foto produser legendaris yang menghiasi lorong studio. "Mainly dudes in suits sitting in front of Porsches," ujarnya menggambarkan foto-foto tersebut.
Ia memang tidak melihat dirinya sebagai bagian dari generasi produser bergaya lama itu. Gaya kerjanya lebih banyak duduk bersila di lantai, bertanya kepada artis untuk mempelajari kosakata dan cara berpikir mereka.
"For me, it's a lot of sitting on the floor, crisscross apple sauce, asking artists questions so I can learn their vocabulary and what makes them tick and really go all in," kata Simon.
Ia menggambarkan dirinya sebagai kombinasi konfidan musik, terapis, motivator, dan orang yang tegas saat situasi menuntut. "I'm not a fan. I'm not going to bow down to them," tegasnya. "We are a team. That means I can tell them the truth."
Soal hubungannya dengan Kahan, Simon punya filosofi tersendiri. "The only difference between being an artist and a kid is if a kid runs towards traffic you hold them back. But if an artist does, you let them get smashed and come out on the other side," kenangnya.
Kepindahannya ke London dan posisinya sebagai produser-in-residence di RAK Studios menegaskan satu hal: Simon tidak berniat berhenti di satu genre atau satu cara kerja. Ia justru mencari proyek-proyek yang membuatnya merasa tidak punya urusan di sana.