Bakti BCA Perkuat Kelembagaan Kampung Adat Prai Ijing Sumba Barat, Pendapatan Warga Tumbuh 26 Persen

Penulis: Endra Sanjaya  •  Senin, 14 September 2026 | 11:01:01 WIB
Warga mengikuti pendampingan Bakti BCA di Kampung Adat Prai Ijing, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Bakti BCA memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Pendampingan yang dimulai sejak 2024 itu mendorong warga menjadi pelaku utama pengelolaan desa, dengan pendapatan kampung adat tercatat tumbuh hingga 26 persen pada akhir 2025.

KUPANG — Program tanggung jawab sosial Bakti BCA mendampingi Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, dengan fokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan desa. Pendampingan itu berjalan sejak 2024 sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan pendampingan diarahkan agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengelola potensi lokal.

"Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Melalui pendampingan dan pengembangan potensi lokal, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya," kata Hera dalam keterangan yang diterima di Kupang, Senin.

Pendapatan Kampung Adat Tumbuh 26 Persen pada Akhir 2025

Dampak pendampingan terlihat pada perekonomian warga. Sejak mendapat pendampingan Bakti BCA, Kampung Adat Prai Ijing mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 26 persen pada akhir 2025.

Penguatan kelembagaan desa membuat warga terlibat langsung dalam pengelolaan aktivitas wisata. Manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan pun dirasakan oleh warga setempat, bukan hanya oleh pengelola di luar kampung.

Hera menambahkan pengembangan potensi desa perlu berjalan seiring upaya menjaga kekayaan budaya. Pariwisata diharapkan tidak menghilangkan nilai-nilai yang telah diwariskan masyarakat.

"Harapannya, potensi budaya dan pariwisata yang dimiliki Kampung Adat Prai Ijing dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap terjaga untuk generasi mendatang," ujarnya.

Dua Paket Wisata, dari Full Day Tour hingga Homestay

Pokdarwis Prai Ijing bersama Bakti BCA menghadirkan dua pilihan paket wisata. Prai Ijing Full Day Tour berdurasi enam hingga delapan jam dibanderol Rp430.000 per orang, sedangkan Prai Ijing Heritage Tour berdurasi maksimal tiga jam dengan biaya Rp250.000 per orang.

Wisatawan yang ingin lebih dekat dengan kehidupan warga bisa memilih paket homestay dengan tarif Rp300.000 per orang per malam, sudah mencakup tiga kali makan.

Kedua paket itu memberi kesempatan wisatawan mengenal sejarah kampung, arsitektur rumah adat, mencoba permainan tradisional Kagorokana Alu, mengikuti lokakarya tenun, menikmati kuliner lokal, hingga mengenakan pakaian adat Sumba.

Rumah Adat Umma Kalada dan Ekosistem UMKM Desa

Deretan rumah adat beratap menjulang atau Umma Kalada menjadi daya tarik utama Kampung Adat Prai Ijing. Kampung ini menawarkan pengalaman wisata yang mempertemukan pengunjung dengan kehidupan masyarakat dan tradisi lokal.

Aktivitas wisata melibatkan berbagai pelaku usaha di desa, mulai dari penyedia makanan, perajin tenun, penyedia busana adat, hingga pembuat cenderamata. Kunjungan wisatawan dengan begitu turut menggerakkan ekosistem ekonomi masyarakat lokal.

Pengembangan Kampung Adat Prai Ijing melalui pendampingan Bakti BCA diharapkan memperkuat daya tarik wisata Sumba Barat sekaligus membangun kapasitas masyarakat. Warga didorong mampu mengelola kekayaan budaya dan potensi ekonomi desa secara berkelanjutan.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top