Sebanyak 103 orang meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung warga terdampak di Kabupaten Nagekeo, Rabu, untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
KUPANG — Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandar Udara Internasional Komodo Labuan Bajo dan bertolak ke Kabupaten Nagekeo untuk meninjau kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi Flores. Dalam kunjungannya, Kepala Negara memimpin rapat koordinasi di Posko Penanganan Bencana Alam NTT Kodam IX/Udayana di Nagekeo.
Rapat tersebut dihadiri sejumlah menteri, di antaranya Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit, Gubernur NTT Melki Laka Lena, dan sejumlah kepala daerah turut hadir dalam pertemuan itu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 103 jiwa hingga Selasa (25/8/2026). Sebaran korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 41 jiwa, disusul Manggarai Timur 34 jiwa, dan Nagekeo 13 jiwa.
Kabupaten Sikka mencatatkan enam korban jiwa, Ngada lima jiwa, Ende tiga jiwa, dan Manggarai Barat satu jiwa. Dari total korban, 55 persen merupakan perempuan dan 45 persen laki-laki.
Kelompok lansia menjadi korban terbanyak dengan porsi 45 persen, diikuti dewasa 37 persen, anak dan remaja 12 persen, serta sisanya balita dan batita.
BNPB mencatat total korban luka-luka mencapai 1.666 orang. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, yakni 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang luka ringan.
Gempa berkekuatan M 7,7 terjadi di wilayah Kabupaten Nagekeo pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA. Pemutakhiran data korban terus dilakukan BNPB seiring dengan laporan tambahan dari wilayah terdampak.
Kehadiran Presiden Prabowo beserta jajaran menteri di Nagekeo menegaskan prioritas pemerintah dalam percepatan penanganan pascagempa. Rapat koordinasi di posko penanganan bencana menjadi langkah awal untuk memastikan bantuan logistik, layanan kesehatan, dan rehabilitasi infrastruktur menjangkau seluruh korban.
Dukungan pemerintah pusat difokuskan pada wilayah dengan dampak terbesar, termasuk Manggarai dan Manggarai Timur yang mencatatkan jumlah korban jiwa serta luka-luka tertinggi.