KUPANG — Gelaran Festival dan Karnaval Gajah di Kota Kupang yang dihadiri Joko Widodo (Jokowi) berbuntut panjang. Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur I, Andreas Hugo Pareira, menilai rangkaian safari politik eks presiden itu tidak membawa program konkret yang menjawab kebutuhan masyarakat setempat.
"Bagi Jokowi dan partainya, jelas misinya untuk mendongkrak kepentingan elektoral dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Tapi bagi masyarakat? Tidak jelas misinya, malah justru memecah belah rakyat di akar rumput soal dia yang masih suka main raja-rajaan," kata Andreas, Selasa (4/8/2026).
Puncak kritik bermula ketika Jokowi dinobatkan sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor dalam agenda Festival dan Karnaval Gajah. Andreas menilai aktivitas politik mantan kepala negara itu lebih menonjolkan simbol dan pencitraan dibandingkan substansi pembangunan.
Menurutnya, masyarakat NTT sudah cukup kritis untuk membedakan kegiatan yang lahir dari kepedulian terhadap daerah dengan aktivitas yang sarat kepentingan politik.
"Saya kira masyarakat ini cukup cerdas untuk melihat mana perilaku yang genuine (asli), dan mana perilaku penuh rekayasa hanya untuk kepentingan berkuasa dan kembali berkuasa," ujarnya.
Andreas menegaskan bahwa warga kini tidak mudah terpengaruh oleh kegiatan seremonial apabila tidak diikuti dengan manfaat konkret. Persoalan pembangunan, ekonomi, hingga kesejahteraan disebut jauh lebih mendesak dibanding agenda politik yang hanya menghadirkan keramaian sesaat.
Ia meyakini safari politik yang dijalankan Jokowi bersama jajaran elite PSI tidak akan menghasilkan manfaat besar bagi NTT. "Masyarakat lebih membutuhkan solusi atas persoalan pembangunan dan ekonomi," imbuhnya.
Dalam rangkaian kunjungannya, Jokowi sempat memberikan wejangan kepada pengurus PSI. Ia menekankan pentingnya partai berlambang mawar itu untuk menjaga kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi kekuatan politik menuju Pemilu 2029.
"Jangan sampai kita kehilangan daya pijak, yaitu dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat kita. Kita harus hadir secara konsisten. PSI harus mampu menghadirkan manfaat yang nyata yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat," ujar Jokowi dalam keterangan yang dikutip dari sumber berita.
Meski demikian, pesan tersebut dinilai kontras oleh Andreas. Ia menilai retorika yang disampaikan tidak sejalan dengan praktik politik yang justru mengedepankan simbol dan seremonial.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PSI maupun Jokowi terkait kritik yang dilayangkan legislator asal NTT tersebut.