KUPANG — Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang memastikan diri keluar dari tembok kampus. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berdampak tahun 2026, perguruan tinggi ini mengalokasikan anggaran Rp1,19 miliar khusus untuk Kabupaten Rote Ndao. Dana tersebut akan mendanai 48 tim riset dan pengabdian yang bergerak di berbagai sektor strategis.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk secara terbuka mengakui bahwa Undana adalah satu-satunya perguruan tinggi yang benar-benar memahami karakteristik masyarakat Nusa Tenggara Timur. "Jujur saja, saya tidak terlalu bersemangat jika harus mengundang perguruan tinggi dari luar NTT karena mereka tidak paham kondisi riil kita di daerah," ujarnya di Kupang, Rabu.
Pernyataan itu menjadi landasan kuat bagi kolaborasi ini. Alih-alih hanya menjadi proyek seremonial, program ini dirancang untuk menyentuh langsung kebutuhan dasar warga Rote Ndao.
Penanggung Jawab PKM Undana Kabupaten Rote Ndao, Prof. Dr. Yantus A.B. Neolaka, menjelaskan bahwa tim yang diterjunkan berasal dari berbagai fakultas dan Program Pascasarjana. Mereka tidak bekerja sendiri, melainkan menggunakan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat.
"Tahun ini kita fokus pada program yang dampaknya dirasakan langsung oleh warga. Seluruh hasil riset akademik diturunkan ke lapangan," kata Yantus.
Program pengabdian ini menyasar lima sektor utama: pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan potensi sumber daya lokal, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan penguatan tata kelola pemerintahan desa. Stunting dan kemiskinan menjadi isu prioritas yang harus ditangani.
Wakil Rektor III Undana Dr. Rudi Rohi menegaskan bahwa kontrak sosial kampus adalah menghadirkan riset yang berdampak. "Kampus harus keluar dari temboknya dan hadir langsung menyelesaikan persoalan di masyarakat. Kontrak sosial kami adalah menghadirkan riset yang berdampak, bukan sekadar teori di atas kertas," katanya.
Selain mengucurkan dana, Undana juga diajak Bupati Paulus Henuk untuk berpartisipasi dalam program "Rote Ndao Mengajar". Program ini akan melibatkan dosen dan guru besar untuk berbagi pengalaman serta memotivasi pelajar di berbagai sekolah di daerah tersebut.
Dengan anggaran Rp1,19 miliar dan 48 tim yang siap bergerak, Rote Ndao menjadi laboratorium hidup bagi Undana. Bupati Paulus berharap hasil riset dan inovasi dari program ini mampu mempercepat penurunan angka stunting, mengentaskan kemiskinan, dan mengembangkan potensi lokal yang selama ini terpendam.
Program ini mengusung tema ambisius: "Pengabdian Undana Berdampak untuk Kabupaten Rote Ndao, Mewujudkan World Class–Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak dan Berkelanjutan."