Baru 15 Persen Lahan Budi Daya Rumput Laut di NTT yang Dimanfaatkan, DKP Dorong Percepatan 5 Klaster

Penulis: Endra Sanjaya  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 10:59:01 WIB
Pemerintah Provinsi NTT mendorong percepatan pengembangan lima klaster rumput laut untuk mengoptimalkan 46.000 hektare lahan potensial yang belum tergarap.

KUPANG — Potensi besar rumput laut di NTT belum diimbangi dengan perluasan lahan budi daya. Dari total 54.000 hektare lahan yang tersedia, baru sekitar 6.000 hingga 8.000 hektare yang dimanfaatkan. Artinya, masih ada sekitar 46.000 hektare lahan potensial yang belum tergarap optimal.

“Peluang pengembangan budi daya rumput laut di NTT masih sangat besar,” kata Stefania Tunga Boro di Kupang, Senin.

Lima Klaster Pengembangan dan Sentra Produksi

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan lima klaster pengembangan rumput laut untuk mempercepat perluasan komoditas ini. Kelima klaster tersebut meliputi Klaster Timor, Rote-Sabu, Flores Timur, Flores Tengah, dan Sumba.

“Pengembangan kawasan dilakukan secara lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk rumput laut,” ujar Stefania.

Sentra produksi rumput laut di NTT tersebar di sepuluh kabupaten, yakni Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Flores Timur, Lembata, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Ngada, dan Nagekeo.

Wilayah Prioritas Berdasarkan Survei Potensi

Berdasarkan hasil survei dan pemetaan potensi, sejumlah kecamatan diprioritaskan sebagai kawasan pengembangan. Kriteria utama meliputi karakteristik bio-ekologi yang sesuai, masyarakat yang telah berpengalaman membudidayakan rumput laut, serta ketersediaan lahan luas.

Wilayah prioritas tersebut antara lain Kecamatan Pahungalodu dan Rindi di Sumba Timur; Kecamatan Kodi Bangedo dan Kodi Utara di Sumba Barat Daya; serta Kecamatan Semau Selatan, Semau, Kupang Barat, dan Sulamu di Kabupaten Kupang.

Di Rote Ndao, prioritas diberikan pada Kecamatan Landu Leko, Loaholu di Rote Barat, Pantai Baru Rote Timur, Rote Barat Daya, dan Ndao Nuse. Sementara di Lembata, meliputi Kecamatan Buyasuri, Nagawutung, dan Omesuri. Kabupaten Alor mencakup Kecamatan Pantar Barat dan Pantar Barat Laut. Untuk Sabu Raijua, prioritas di Kecamatan Raijua, Hawu Mehara, Sabu Timur, Sabu Tengah, Sabu Liae, dan Sabu Barat.

Fluktuasi Produksi dan Strategi Peningkatan Produktivitas

Produksi rumput laut NTT selama periode 2019-2025 menunjukkan tren fluktuatif. Produksi tertinggi tercatat pada 2020 sebesar 2,16 juta ton, kemudian menurun pada 2021-2022 akibat bencana Seroja. Pada 2023 meningkat menjadi 1,56 juta ton, lalu turun pada 2024 menjadi 1,47 juta ton. Hingga 2025, berdasarkan data sementara, produksi telah mencapai sekitar 1,25 juta ton.

Stefania menjelaskan fluktuasi ini dipengaruhi perubahan musim dan iklim, serangan penyakit ice-ice, kualitas bibit, kondisi lingkungan perairan, serta dinamika pasar. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada perluasan areal budi daya, tetapi juga meningkatkan produktivitas.

“Harapannya, potensi rumput laut NTT dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar dia.

Langkah yang dilakukan meliputi penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, peningkatan sarana dan prasarana budi daya, pendampingan kepada pembudidaya, serta penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan industri pengolahan. Penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) juga digencarkan agar hasil panen lebih stabil dan berkelanjutan.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top