KUPANG — Arny nyaris absen dari kompetisi tersebut. Jadwal lomba bertepatan dengan masa Ujian Akhir Semester (UAS) di kampusnya. Namun tiga hari sebelum acara dimulai, panitia memberikan “tiket darurat” yang membuatnya bisa berpartisipasi.
“Saya kesulitan membagi waktu antara lomba dan UAS. Tapi ketika diberi kesempatan, saya tidak ingin menyia-nyiakannya. Kepercayaan itu menjadi dorongan besar bagi saya untuk berani mencoba,” ujar Arny saat ditemui di Ruang FKIP UCB, Senin (20/7/2026).
Dalam cerita bertajuk “Ikun’s Dream in Small Village”, Arny mengisahkan seorang gadis yang tumbuh di tengah keraguan lingkungan. Tokoh utama akhirnya menemukan keberanian mengejar mimpi melalui petualangan bersama seruling dan seorang nenek tua di tanah Flobamora.
“Saya sengaja mengangkat cerita lokal untuk mempromosikan kekayaan budaya dan kearifan kita. Ternyata, sentuhan lokal inilah yang membuat juri tertarik dan mengantarkan saya ke posisi juara 2,” ungkap mahasiswi yang sebelumnya juga meraih juara 4 pada Pemilihan Duta Bahasa NTT itu.
Bagi Arny, lomba ini bukan sekadar soal piala. Ia menyebut ajang tersebut sebagai sarana mengasah public speaking dan kepercayaan diri. Ia berharap prestasinya bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk tidak takut gagal.
“Seberat apa pun tantangan, pasti akan terlewati. Ini bukan soal kalah atau menang, tapi soal berani berpartisipasi. Dari situ kita dapat pelajaran berharga untuk berubah,” pesannya.
Suasana haru mewarnai pertemuan itu ketika para dosen PBI UCB turut hadir memberikan ucapan selamat. Mereka antara lain Dr. Agnes M.D. Rafael, Dr. Lanny Isabela Dwisyahri Koroh, Selfiana T.M. Ndapa Lawa, dan Viktorius P. Feka. Dukungan lingkungan akademis dinilai memainkan peran penting dalam mencetak mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam berkarya.