NUSA TENGGARA TIMUR — Bank Central Asia (BCA) menawarkan kurs e-Rate untuk transaksi elektronik dengan harga beli Rp 17.878 dan harga jual Rp 17.898 per dolar AS. Sementara itu, untuk transaksi melalui teller (TT Counter) dan bank notes, BCA mematok harga beli Rp 17.690 dan harga jual Rp 17.940. Artinya, selisih antara beli dan jual di layanan TT Counter mencapai Rp 250 per dolar.
Di Bank Mandiri (BMRI), kurs untuk transaksi dengan nominal di atas 25.000 dolar AS menggunakan skema special rate. Harga beli tercatat Rp 17.865 dan harga jual Rp 17.895 per dolar AS. Untuk transaksi reguler melalui TT Counter, Mandiri memasang harga beli Rp 17.640 dan harga jual Rp 17.940.
Bank Negara Indonesia (BBNI) menawarkan kurs bank notes dengan harga beli Rp 17.625 dan harga jual Rp 17.925 per dolar AS. Selisih kurs di BNI untuk layanan ini juga berada di kisaran Rp 300 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung pada biaya transaksi valuta asing. Bagi importir yang membutuhkan dolar untuk pembayaran barang, kurs jual yang lebih tinggi berarti beban biaya semakin besar. Sebaliknya, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar akan mendapatkan rupiah lebih banyak saat menukarkan devisa hasil ekspor.
BCA menegaskan bahwa kurs e-Rate hanya berlaku untuk transaksi melalui e-Banking. Nasabah yang bertransaksi dengan nominal tertentu disarankan menghubungi cabang terdekat untuk mendapatkan kurs khusus. Ketentuan threshold transaksi dan kewajiban dokumen underlying tetap mengikuti aturan Bank Indonesia (BI).
Bagi nasabah yang hendak menukarkan dolar dalam jumlah besar, Mandiri dan BNI menyediakan skema special rate dengan selisih kurs yang lebih sempit. Ini menjadi opsi bagi pelaku bisnis yang membutuhkan efisiensi dalam transaksi valas.
Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan kurs secara real-time melalui aplikasi perbankan masing-masing. Fluktuasi kurs dapat terjadi selama proses transaksi, sehingga waktu eksekusi menjadi faktor penting dalam meminimalkan kerugian selisih kurs.