KUPANG — Ribuan pelajar dari tingkat SD hingga SMA di NTT serempak mengikuti edukasi literasi keuangan yang digelar di sekolah masing-masing, Kamis (15/5). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Linus Lusi, mengatakan kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pemprov, perbankan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membekali siswa dengan pengetahuan dasar menabung dan mengelola keuangan.
Linus menjelaskan bahwa kebiasaan menabung harus ditanamkan sejak kecil agar anak-anak tidak terbiasa konsumtif. “Kami ingin anak-anak NTT tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga cerdas secara finansial. Ini bekal mereka menghadapi masa depan,” ujarnya kepada wartawan di Kupang.
Kegiatan ini juga menyasar daerah-daerah terpencil di NTT yang selama ini minim akses terhadap layanan perbankan. Dengan edukasi ini, para pelajar diharapkan bisa menjadi agen perubahan di keluarga masing-masing.
Total 15.000 pelajar dari 22 kabupaten/kota berpartisipasi dalam kegiatan ini, mulai dari Kupang, Flores Timur, Sikka, hingga Alor. Setiap sekolah menggelar sesi edukasi dengan modul yang disediakan OJK dan perbankan mitra.
Pencapaian ini langsung dicatat oleh MURI sebagai pemecahan rekor untuk kategori “Edukasi Literasi Keuangan dengan Peserta Terbanyak Secara Serentak”. Penghargaan diserahkan secara simbolis kepada Gubernur NTT di Aula Kantor Gubernur.
Materi edukasi mencakup pengenalan produk keuangan, cara menabung, hingga cara menghindari pinjaman online ilegal. Para siswa juga diajak praktik membuka rekening tabungan sederhana yang difasilitasi oleh bank daerah setempat.
“Kami juga memberikan simulasi pengelolaan uang saku mingguan agar mereka terbiasa memisahkan kebutuhan dan keinginan,” tambah Kepala OJK NTT, Robert Sianipar.
Pemprov NTT berencana menjadikan literasi keuangan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Linus Lusi menegaskan bahwa program ini tidak akan berhenti pada perayaan Hari Buku Nasional, melainkan akan berkelanjutan.
“Kami sudah menyusun kurikulum sederhana yang bisa diintegrasikan ke pelajaran matematika dan kewirausahaan. Targetnya, setiap siswa lulus SD sudah paham konsep dasar menabung,” pungkasnya.