NUSA TENGGARA TIMUR — Kolaborasi antara dua BUMN sektor pertambangan ini diumumkan pada Selasa (26/5/2026). Fokus utama kerja sama adalah pengembangan hilirisasi mineral strategis, khususnya pemrosesan terak timah (slag) dan mineral tanah jarang yang selama ini kerap menjadi limbah produksi.
Terak timah merupakan sisa hasil peleburan bijih timah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, material ini mengandung sejumlah mineral kritis yang dibutuhkan industri elektronik, baterai, hingga pertahanan.
Direksi PT Timah menilai kerja sama ini akan mengubah status terak timah dari limbah menjadi aset bernilai ekonomi tinggi. Sementara itu, Perminas membawa kapasitas pengolahan mineral nasional yang sudah teruji.
Selain terak timah, kedua perusahaan juga akan fokus pada pemrosesan logam tanah jarang. Mineral ini menjadi rebutan negara-negara industri karena digunakan dalam pembuatan magnet permanen, layar sentuh, hingga kendaraan listrik.
Selama ini, Indonesia masih mengekspor bahan mentah mineral tanah jarang ke luar negeri. Dengan adanya kerja sama ini, PT Timah dan Perminas berupaya memutus rantai ekspor bahan mentah dan menggantinya dengan produk setengah jadi atau jadi.
Pemerintah sendiri terus mendorong hilirisasi sebagai strategi utama meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Bagi pelaku pasar, kolaborasi ini menjadi sinyal positif bahwa BUMN tambang serius masuk ke bisnis mineral kritis. Saham PT Timah berpotensi mendapat sentimen positif karena prospek bisnis baru di luar timah murni.
Di sisi lain, kerja sama ini juga memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global memperebutkan rantai pasok mineral langka. Negara-negara seperti China dan Australia selama ini mendominasi pasar logam tanah jarang.
PT Timah dan Perminas belum merinci nilai investasi atau target produksi dari proyek ini. Namun, keduanya menegaskan bahwa tahap awal akan difokuskan pada studi kelayakan dan pemetaan potensi bahan baku di dalam negeri.
Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan hilirisasi BUMN yang dicanangkan Kementerian BUMN sejak beberapa tahun terakhir. Dengan pengolahan mineral kritis, Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga membangun industri pengolahan yang menyerap tenaga kerja dan menghasilkan devisa.