Pembangunan di wilayah Nusa Tenggara Timur kini diarahkan pada pendekatan berbasis data dan inovasi untuk menjawab tantangan kebutuhan riil masyarakat. Langkah ini memerlukan kolaborasi lintas sektor yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan bahwa wilayahnya memiliki kekayaan melimpah pada sektor pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Namun, pengelolaan potensi tersebut masih memerlukan sentuhan riset terapan agar memberikan dampak ekonomi yang lebih signifikan.
“Kita memiliki begitu banyak potensi, mulai dari pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Tantangannya adalah bagaimana potensi ini dikembangkan dengan pendekatan ilmiah berbasis data, riset, dan inovasi,” kata Melki Laka Lena di Kupang, Selasa.
Data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV menunjukkan NTT memiliki modal sumber daya manusia yang cukup besar untuk menggerakkan inovasi. Saat ini, terdapat 57 perguruan tinggi swasta yang tersebar di berbagai kabupaten/kota dengan total mahasiswa mencapai 79.003 orang.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka merinci, kekuatan pengajar di NTT didukung oleh 3.118 dosen aktif, termasuk 18 guru besar. Dari sisi kualifikasi pendidikan, sebanyak 10,9 persen dosen telah merampungkan jenjang doktor (S3) dan 87,8 persen merupakan lulusan magister (S2).
Kualitas institusi juga terus menunjukkan tren positif. Sebanyak 23,6 persen perguruan tinggi di NTT telah meraih akreditasi Baik Sekali, sementara 74,5 persen lainnya berstatus Baik. Kapasitas ini diharapkan menjadi mesin utama dalam melahirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Kepala BRIN Arif Satria menekankan bahwa daya saing suatu daerah atau negara di masa depan tidak lagi bergantung pada kepemilikan sumber daya alam semata. Kemampuan inovasi dan penguasaan ilmu pengetahuan menjadi penentu utama dalam kompetisi global.
Berdasarkan data permohonan paten global tahun 2024, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-34 dunia. Meskipun menunjukkan tren positif, Arif menilai kerja keras masih diperlukan untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
“Kita masih perlu bekerja lebih keras agar mampu sejajar dengan negara-negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan,” ujar Arif Satria.
Gubernur Melki Laka Lena meminta perguruan tinggi di NTT tidak hanya fokus pada teori, tetapi bertransformasi menjadi gerbong utama inovasi. Akademisi didorong untuk lebih aktif mengakses berbagai skema pendanaan riset dari pemerintah pusat guna mendanai penelitian yang solutif bagi masalah daerah.
Penyelarasan program antara kampus dan industri menjadi kunci agar hasil riset tidak hanya berakhir di perpustakaan, tetapi diserap oleh pasar. Diferensiasi peran kampus sebagai teaching university, research university, maupun entrepreneurial university dianggap perlu agar kontribusi setiap lembaga lebih tepat sasaran.
“Perguruan tinggi harus menjadi gerbong utama dalam melahirkan inovasi dan gagasan yang membumi serta menjawab kebutuhan masyarakat,” pungkas Gubernur.