Kepala BGN Prioritaskan Operasional MBG di NTT, Petani Lokal Pasok Bahan Pangan ke Dapur SPPG

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Rabu, 23 September 2026 | 08:30:02 WIB
Kepala BGN Sudaryono meninjau operasional Program Makan Bergizi Gratis di Nusa Tenggara Timur.

Badan Gizi Nasional (BGN) memprioritaskan operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Timur dengan menggandeng petani lokal sebagai pemasok bahan pangan. Kepala BGN Sudaryono menyatakan program ini dirancang agar dana APBN masuk ke desa dan berputar di sana. Langkah itu menghubungkan peningkatan gizi anak sekolah dengan perbaikan taraf hidup warga tani.

KUPANG — Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menegaskan NTT menjadi wilayah pertama yang ia buka untuk operasional MBG. Menurutnya, program ini memang diciptakan untuk menyerap produk-produk hasil pertanian di desa.

"MBG di NTT ini prioritas saya buka duluan. MBG memang diciptakan untuk menerima produk-produk hasil pertanian di desa, sehingga uang APBN turun ke desa, berputar di desa," kata Sudaryono dalam kanal resmi BGN, dikutip dari Jakarta.

Sumur Bor hingga Irigasi Jadi Kendala Petani Baumata

Saat berkunjung ke Baumata, Sudaryono mendengar langsung persoalan yang dihadapi para petani setempat. Kebutuhan mereka beragam, mulai dari sumur bor, traktor, sampai irigasi untuk mengembangkan lahan.

Pria yang akrab disapa Mas Dar itu berupaya memfasilitasi kebutuhan tersebut dan menghubungkan kegiatan petani dengan Program MBG. Harapannya, produk hasil kebun bisa terserap optimal tanpa terhambat akses pasar.

"Jadi bukan hanya anak sekolah yang dikasih makan, melainkan makanan yang diberikan kepada anak sekolah tadi bersumber dari desa setempat. Saya ingin bantuan yang diberikan punya sambungan dengan kegiatan ekonominya karena kalau petani sudah bisa menanam cabai, melon, semangka, dan komoditas lainnya, kita juga harus memikirkan pasarnya," paparnya.

SPPG Didorong Serap Produk Petani, UMKM, dan BUMDes

Bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memang diarahkan agar menyerap produk dari petani, UMKM, koperasi, Badan Usaha Milik Desa, hingga peternak dan pelaku usaha lokal. Sudaryono menyebut MBG bisa menjadi ruang yang menghubungkan petani dengan pembeli.

Dengan begitu, hasil panen tidak lagi bergantung pada tengkulak atau pasar yang tidak pasti. Petani punya kepastian permintaan dari dapur-dapur SPPG yang beroperasi di sekitar mereka.

"Jadi harapannya anak-anak mendapatkan makanan bergizi, petani punya pasar, dan uang yang berputar dari program ini ikut menggerakkan ekonomi desa. Kalau kebunnya tumbuh, pasarnya ada, kalau pasarnya ada, petani punya alasan untuk terus menanam," ucap Mas Dar.

Efek Berganda bagi Ekonomi Desa

Skema yang dibangun BGN menyambungkan dua kebutuhan sekaligus. Anak sekolah menerima asupan bergizi, sementara petani di desa mendapat jaminan pasar untuk komoditas seperti cabai, melon, dan semangka.

Sudaryono menekankan pentingnya kesinambungan antara perbaikan gizi dan peningkatan ekonomi warga. Jika pasokan dari desa berjalan lancar, uang yang masuk lewat program ini tidak langsung keluar dari wilayah, melainkan berputar di tingkat lokal.

BGN belum merinci jadwal lengkap operasional MBG di NTT maupun jumlah SPPG yang akan melayani penyerapan hasil tani. Namun arah kebijakannya sudah jelas: petani lokal menjadi pemasok utama bahan pangan program tersebut.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top