ENDE — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi NTT Noldy Hosea Pellokila menyatakan pihaknya rutin memberikan pendidikan wawasan kebangsaan kepada semua segmen generasi muda. Sasaran program mencakup siswa SMP, SMA, SMK, hingga mahasiswa di dunia perguruan tinggi. Kegiatan dijalankan melalui koordinasi dengan lembaga pendidikan dan organisasi mitra pemerintah.
Pendidikan bela negara diberikan untuk menanamkan nilai cinta tanah air, persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Penanaman nilai itu dimulai sejak lingkungan sekolah hingga kampus.
Noldy menyebut setiap kesempatan dimanfaatkan untuk menyentuh semua kelompok usia muda. Tidak ada segmen yang dilewati, dari jenjang menengah hingga perguruan tinggi.
"Setiap ada kesempatan kita selalu melakukan pendidikan wawasan kebangsaan kepada semua segmen generasi muda, mulai dari SMP, SMA, SMK sampai dunia perguruan tinggi dan mahasiswa," kata Noldy dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI, Kamis, 17 September 2026.
Selain wawasan kebangsaan, Kesbangpol NTT menjalankan pembinaan kesadaran bela negara lewat kegiatan kepemudaan dan pendidikan karakter. Generasi muda juga didorong terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan masing-masing.
Bentuk keterlibatan itu antara lain gotong royong, menjaga lingkungan, menaati aturan, serta membantu warga yang membutuhkan. Noldy menegaskan bela negara bukan hanya soal kemampuan fisik.
Menurutnya, bela negara juga terwujud dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Keteladanan orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan aparatur negara dinilai penting agar nilai-nilai itu bisa dilihat dan dipraktikkan langsung oleh generasi muda.
"Bela negara dapat diwujudkan melalui pendidikan, pengabdian dalam profesi, prestasi, menjaga persatuan, menaati hukum, menjaga lingkungan, menolak hoaks, dan menolong sesama anak bangsa," ujarnya.
Pendekatan yang dipakai Kesbangpol NTT menggabungkan pendidikan wawasan kebangsaan dengan pembinaan karakter. Dua hal itu dijalankan berdampingan lewat kegiatan kepemudaan dan aktivitas sosial.
Melalui cara tersebut, nilai persatuan dan toleransi ditanamkan tidak hanya sebagai materi, tetapi juga lewat pengalaman langsung di lapangan. Generasi muda di NTT diharapkan menyerap nilai itu sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.