MAUMERE — Nama Cletus Beru kini menjadi perbincangan hangat di kalangan pegiat pariwisata NTT. Pria yang meninggalkan kenyamanan kota untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Umauta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, ini berhasil bersaing di tingkat nasional. Ia dinilai layak karena konsisten menghidupkan kembali sanggar budaya peninggalan sang ayah yang sempat mati suri.
Dalam sambutannya di Kampung Dokar, Paulus Histo Safrodan menegaskan bahwa Cletus bukan tipe pejuang yang mencari sorotan kamera. “Pahlawan sejati adalah mereka yang bekerja dalam sunyi. Cletus mampu membuat Kampung Dokar menjadi spirit nasional,” ujarnya.
Menurut Paulus, kunjungan tim WIA 2026 bukan sekadar menilai kelayakan Cletus sebagai Local Hero. Kunjungan ini menjadi bukti bahwa kerja keras warga kampung dalam merawat budaya lokal dicatat oleh negara. “Budaya lokal akan menemukan jalannya untuk pulang, demi kelangsungan anak cucu dan pertumbuhan ekonomi warga,” kata Paulus.
Satu hal yang membuat Cletus menonjol di mata dewan juri adalah keputusannya pulang kampung. Di saat banyak pemuda memilih merantau demi kemapanan di kota, Cletus justru mengambil langkah sebaliknya. Ia meninggalkan kenyamanan untuk meneruskan perjuangan sang ayah.
“Kalau kita lihat di depan ini ada banyak penghargaan, tapi bukan itu yang Cletus minta. Penghargaan sesungguhnya adalah ketika anak-anak kecil Kampung Dokar berani menari dengan percaya diri,” ungkap Paulus. Ia menambahkan, generasi muda di kampung tersebut kini semringah menenun ikat karena mereka percaya dapur ekonomi mereka tetap berjalan.
Di balik dedikasinya pada seni, Cletus dikenal sebagai sosok yang ceplas-ceplos. Paulus menceritakan, Cletus tidak pernah diam saat melihat infrastruktur rusak. “Dia terus menuntut perbaikan jalan 12 kilometer menuju sanggarnya, tanpa pandang bulu. Meski ada bantuan, dia tetap kritis,” kata Paulus.
Paulus mengakui bahwa pemerintah provinsi belum banyak membantu secara langsung. Namun, ia menilai Cletus tidak tersanjung karena pujian dan tidak jatuh karena kurangnya dukungan. “Ia terus maju,” tegas Paulus.
Paulus juga menyebut Kampung Dokar sangat layak menjadi lokasi penelitian seni yang hampir punah. Dengan keberadaan Cletus dan sanggar budayanya, daerah terpencil di Kabupaten Sikka ini kini memiliki daya tarik tersendiri di mata Kementerian Pariwisata. Hasil visitasi tim WIA 2026 akan menentukan apakah Cletus berhak menyandang gelar Pejuang Pariwisata Nasional tahun 2026.