NUSA TENGGARA TIMUR — Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai sentimen domestik terhadap rupiah relatif positif. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada arah kebijakan BI-Rate yang diperkirakan tetap bertahan di level 5,75 persen.
"Perhatian utama tertuju pada arah kebijakan BI-Rate yang diperkirakan tetap di level 5,75 persen," ujar Amru kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pelemahan Dolar AS Jadi Katalis Penguatan Rupiah
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap dolar AS semakin berkurang setelah serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan. Hal ini menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Data penjualan ritel dan layanan makanan AS tercatat turun 0,6 persen secara bulanan (month-on-month) pada Juli 2026, berbalik dari kenaikan 0,2 persen pada Juni dan menjadi penurunan pertama sejak Oktober 2025. Selain itu, Nonfarm payrolls berkurang 23 ribu pada Juli, dengan tingkat pengangguran berada di angka 4,1 persen.
Kondisi ekonomi AS yang melambat ini memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk menguat. Namun, risiko geopolitik dan kenaikan harga minyak mentah global masih menjadi faktor yang dapat membatasi apresiasi rupiah lebih lanjut.
BI Dorong Pelonggaran Likuiditas untuk Dukung Kredit
Di tengah penantian keputusan suku bunga, Bank Indonesia juga mendorong peningkatan penyaluran kredit perbankan melalui pelonggaran likuiditas. Langkah ini diambil untuk mendukung konsumsi dan pertumbuhan ekonomi nasional, dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa otoritas moneter berupaya menyeimbangkan antara stabilitas eksternal dan kebutuhan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi domestik. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan pasca-RDG untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Faktor yang Menentukan Arah Rupiah ke Depan
Amru menjelaskan, pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dua variabel utama. Pertama, perkembangan indeks dolar AS di pasar global. Kedua, hasil RDG BI yang akan memberikan sinyal kebijakan terkait upaya menjaga stabilitas nilai tukar.
"Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.750-Rp17.900 per dolar AS dalam jangka pendek dengan kecenderungan menguat secara terbatas," jelasnya.
Proyeksi ini menunjukkan pasar masih bersikap wait and see. Penguatan rupiah diperkirakan terjadi secara bertahap, mengingat masih adanya ketidakpastian global yang membayangi prospek mata uang negara berkembang.
Investasi mengandung risiko.