NUSA TENGGARA TIMUR — Honda sepertinya sudah hafal pertanyaan pertama yang akan keluar dari mulut warganet begitu nama Super ONE disebut: "Berapa harganya?" Di Jepang, mobil listrik ini dibanderol sekitar Rp390 juta. Untuk Indonesia, angkanya belum diumumkan, tapi prediksi publik sudah mengarah ke angka Rp450 jutaan. Dan di titik itulah biasanya muncul perbandingan dengan BYD atau merek China lain yang menawarkan fitur lebih banyak dengan harga lebih rendah.
Alih-alih berdebat soal angka, Honda memilih langkah berbeda. Dalam sesi khusus bertajuk Media Deep Dive di GIIAS 2026, mereka memaparkan lima poin yang menjadi alasan keberadaan Super ONE. Kelima poin ini bukan soal jarak tempuh atau waktu charging, melainkan soal identitas dan tujuan produk itu diciptakan.
Lima Poin yang Menjelaskan Kenapa Super ONE Ada
Presentasi Honda tidak dibuka dengan grafik performa atau tabel perbandingan. Mereka justru memaparkan lima prinsip yang menjadi fondasi lahirnya Super ONE. Pertama, ini adalah mobil listrik Honda pertama yang benar-benar bisa dimiliki konsumen Indonesia. Kedua, ia menjadi pernyataan tentang Joy of Driving di era elektrifikasi. Ketiga, produksinya hanya dibatasi 100 unit sepanjang 2026 — bahkan lebih langka dari Honda Prelude e:HEV. Keempat, ditujukan bagi konsumen yang ingin mobil listrik tanpa kehilangan karakter khas Honda. Kelima, Super ONE menjadi representasi DNA seluruh lini produk Honda.
Kalau kelima poin itu dipahami, harga Rp450 jutaan mulai masuk akal. Ini bukan mobil yang dibuat untuk bersaing di segmen EV mainstream. Ini adalah kendaraan untuk mereka yang rindu sensasi mengemudi ala Honda, tapi ingin beralih ke tenaga listrik.
"A Honda First, Electric Second": Bukan Sekadar Slogan
Honda memakai satu kalimat sederhana untuk menjelaskan pendekatan mereka: Engineered for Driving Joy. Kalimat ini bukan tagline baru — sudah menjadi filosofi pabrikan asal Jepang itu selama puluhan tahun. Yang berubah hanyalah sumber tenaganya: dulu bensin, lalu hybrid, kini listrik. Yang dipertahankan adalah rasa ketika mengemudi.
Pendekatan ini mereka sebut sebagai "A Honda First. Electric Second." Artinya, mereka lebih dulu membuat sebuah Honda yang sesungguhnya, baru setelah itu menjadikannya mobil listrik — bukan sebaliknya. Ini adalah pembeda fundamental dibanding pendekatan kebanyakan pabrikan China yang membangun mobil dari platform EV murni dan baru menambahkan karakter sebagai lapisan kedua.
Harga Mahal, Tapi untuk Pengguna yang Berbeda
Di sinilah letak keunikannya. Super ONE tidak akan pernah menang dalam perang spesifikasi. Fiturnya mungkin tidak selengkap mobil China di harga yang sama. Tapi ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diukur dari lembar brosur: karakter berkendara.
Bagi pembeli yang mengerti nilai ini, Rp450 jutaan bukanlah harga yang mahal. Mereka membayar untuk pengalaman mengemudi yang terasa seperti Honda — responsif, presisi, dan menyenangkan — tanpa emisi. Bagi yang hanya melihat angka di atas kertas, mobil ini akan selalu terlihat "kurang" dibanding kompetitornya. Dan Honda tampaknya tidak masalah dengan itu.
Dengan kuota hanya 100 unit, Super ONE jelas tidak ditujukan untuk pasar massal. Ia adalah pernyataan arah: Honda tetap setia pada jati dirinya, bahkan di era elektrifikasi. Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apa yang bisa saya dapat dengan uang segini?", melainkan "apakah saya termasuk tipe pengemudi yang menghargai karakter di atas fitur?"