KUPANG — Terpilihnya jurnalis Floresa, Anno Susabun, dalam program bergengsi International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat bukanlah sebuah kebetulan. Di balik pengakuan ini, terdapat kerja panjang dan konsistensi media lokal asal Flores itu dalam menjalankan jurnalisme yang berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar mengejar apa yang sedang ramai dibicarakan.
Bagi Carles Deon, pembaca setia Floresa, kabar ini sempat memunculkan pertanyaan reflektif: "Kok harus Floresa?" Namun, pertanyaan itu justru mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa pengakuan internasional tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Ada proses panjang, pilihan sulit, dan keberanian yang sering kali tidak terlihat publik di balik sebuah penghargaan.
Konsisten Angkat Isu Lingkungan dan Hak Masyarakat Adat
Floresa bukan sekadar media yang melaporkan peristiwa. Mereka memilih jalur pemberitaan dengan perhatian kuat pada isu-isu yang menyentuh akar persoalan masyarakat. Lingkungan hidup, hak masyarakat adat, konflik agraria, hingga dampak pembangunan terhadap kelompok rentan menjadi fokus utama liputan mereka.
Pilihan ini menjadi semakin relevan di tengah kekayaan sumber daya alam dan kompleksitas tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Kerja jurnalistik Floresa tidak hanya berhenti pada pertanyaan apa yang dibangun, tetapi juga siapa yang terdampak, siapa yang diuntungkan, dan suara siapa yang belum terdengar.
Tekanan dan Intimidasi Tak Menyurutkan Independensi
Jalan yang ditempuh Floresa tidak selalu mulus. Komitmen mereka pada isu-isu sensitif kerap berhadapan dengan risiko. Tim redaksi pernah menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari intimidasi terhadap wartawan dan pekerja media hingga serangan terhadap ruang digital berupa upaya peretasan situs media.
Dalam konteks media lokal, tekanan semacam ini memiliki kompleksitas tersendiri. Hubungan sosial yang dekat antara pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat, dan warga membuat kritik terhadap kebijakan kadang dipahami sebagai keberpihakan, bukan sebagai bagian dari proses demokrasi. Di titik inilah independensi Floresa diuji—dan mereka bertahan.
Media Lokal sebagai Pilar Demokrasi yang Kritis
Keberanian Floresa menjaga ruang redaksi tetap bebas dari kepentingan politik praktis dan kekuasaan menjadi pelajaran penting bagi media lain. Dalam demokrasi, media tidak boleh berubah menjadi corong kekuasaan atau alat propaganda. Sebaliknya, media harus menjadi ruang bagi suara-suara yang sering terpinggirkan.
Pengakuan internasional melalui IVLP ini menunjukkan bahwa jurnalisme yang kredibel dan independen, sekecil apa pun medianya, akan mendapatkan tempatnya. Bagi Flores dan Nusa Tenggara Timur, capaian ini bukan hanya kebanggaan, melainkan penegasan bahwa jurnalisme lokal mampu bersaing dan diakui di panggung global.