KUPANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang menegaskan Ripparda 2026-2030 bukan sekadar dokumen administratif, melainkan peta jalan untuk mengejar ketertinggalan sektor pariwisata. Plt Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Kupang, Juhardi D Selan, menyebut penyusunan rencana induk ini melibatkan kolaborasi pentaheliks—pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media—untuk memperluas lapangan kerja dan mendorong pembangunan menuju visi Kabupaten Kupang Emas 2030.
Dua Ikon Wisata Baru Andalan Kabupaten Kupang
Kabupaten Kupang sebenarnya memiliki daya tarik yang belum tergarap maksimal. Keberadaan Observatorium Nasional Timau di Amfoang disebut sebagai potensi wisata minat khusus yang langka di Indonesia. Selain itu, rencana pembangunan Patung Kristus di Bukit Hansisi, Pulau Semau, diharapkan menjadi magnet baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Kabupaten Kupang memiliki potensi daya tarik wisata alam, budaya, dan buatan yang dapat dikembangkan, termasuk keberadaan Observatorium Nasional Timau di Amfoang dan rencana pembangunan Patung Kristus di Bukit Hansisi, Pulau Semau, sebagai daya tarik baru untuk meningkatkan kunjungan wisata dan ekonomi domestik," kata Juhardi di Kupang, Jumat.
Konsep Pariwisata Berkualitas: Bukan Sekadar Jumlah Kunjungan
Ketua Tim Penyusun Ripparda yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana, Rolland Fanggidae, menjelaskan dokumen ini mengusung konsep pariwisata berkualitas. Fokus utamanya bukan mengejar kuantitas wisatawan, melainkan keberlanjutan, peningkatan kualitas hidup warga lokal, kepuasan pengunjung, dan dampak ekonomi nyata bagi daerah.
Menurut Rolland, tantangan terbesar pembangunan pariwisata di Kabupaten Kupang masih klasik: minimnya atraksi, aksesibilitas yang terbatas, dan rendahnya amenitas di sejumlah destinasi. Akibatnya, lama tinggal wisatawan relatif singkat sehingga kontribusi sektor ini terhadap perekonomian daerah belum optimal.
Desa Wisata dan UMKM Jadi Kunci Pemerataan Ekonomi
Ripparda 2026-2030 disebut akan menempatkan pengembangan desa wisata dan UMKM berbasis ekonomi kreatif sebagai prioritas. Langkah ini dinilai krusial agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir pengusaha besar, tetapi dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.
"Pengembangan desa wisata dan UMKM berbasis ekonomi kreatif perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pembangunan kepariwisataan agar manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan masyarakat," tegas Rolland.
Asita Siap Garap Paket Wisata ke Destinasi Baru
Dukungan datang dari industri. Wakil Ketua I DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT, Johny Rohi, menyatakan pihaknya siap menyusun paket wisata untuk meningkatkan kunjungan, baik domestik maupun mancanegara. Sejumlah destinasi yang selama ini rutin difasilitasi Asita antara lain Istana Raja Amarasi, Rumah Sasando Oebelo, Gua Kristal, Pulau Semau, kawasan pesisir Kupang Barat, Bukit Teletabis, dan Observatorium Nasional Timau.
Johny menambahkan, pembenahan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas tetap menjadi prioritas utama. Hal ini penting untuk mendukung pengembangan wisata minat khusus seperti glamping di Amfoang, jalur tenun, wisata budaya, hingga wisata religi, sekaligus memperkuat kawasan strategis pariwisata yang akan dituangkan dalam dokumen Ripparda.